Jakarta, Intra62.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama untuk melakukan kajian teknologi spesifik tentang pemurnian bahan galian nonlogam silika dan grafit. Tujuan dari kerja sama ini adalah untuk pacu industrialisasi yang memberikan nilai tambah.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, “Kami berharap melalui kerja sama ini mampu menyusun kajian teknologi dan mendukung program prioritas nasional industrialisasi bahan galian nonlogam, seperti grafit dan silika.”
Kajian teknologi spesifik yang dikukuhkan pada 27 Oktober bertujuan untuk mengubah silika menjadi silicon metallurgical-grade berbasis sumber daya mineral, menurut Taufiek Bawazier, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin.
Selain itu, ia bekerja sama dengan ITB untuk melakukan penelitian tentang teknologi pengolahan grafit sintetis dan pemurnian grafit alam, serta analisis keekonomian yang berkaitan dengan pelaksanaan industri di Indonesia.
Selain itu, kolaborasi penelitian ini dianggap penting karena Indonesia memiliki potensi besar untuk komoditas silika dan grafit, yang akan sangat penting bagi industri masa depan.
Menurut data yang dirilis oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada tahun 2025, ketersediaan sumber daya mineral silika di Indonesia mencapai 27 miliar ton (pasir silika, kuarsa, batu kuarsa, dan kuarsit), dan cadangan (reserve) mencapai 7 miliar ton.
Sementara diproyeksikan bahwa jumlah grafit yang tersedia di Indonesia akan mencapai 31 juta ton pada tahun 2023. Grafit dapat diproduksi dari sumber daya potensial lainnya, seperti batu bara dan kokas minyak bumi.
Sebaliknya, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menyambut baik inisiatif kolaborasi ini pacu industrialisasi.
Baca Juga :Peluang Kerja Sebagai Koki SPPG Untuk Penyandang Disabilitas Dicari Oleh Kemensos.
( Red ).
