Jayapura , Intra62.com . Sekjend AWDI , B. Wadja SH prihatin kelaparan di Papua terulang lagi , akibat gagal panen . Cuaca ekstrim yang berubah menjadi tanaman menjadi rusak dan kedinginan . Hal ini disampaikan saat diksusi panel di Kantor DPP AWDI , rabu ( 2/8/ 2023 ). Namun yang menarik , peristiwa ini mestinya bisa diatasi dengan konsep mitigasi bencana yang terukur dan terrencana , ” ungkap Direktur Eksekutif CSPP , Anis Fuad Ir . CSPP adalah komunitas cendikiawan yang beranggotakan dari jurnalis , Sebuah “think thank ” dan dari underbow dari Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia ( AWDI ).
Hasil pantauan awak media intra62 dan sejumlah media , juga melaporkan bahwa kelaparan ini melanda dua distrik yaitu Distrik Lambewi dan Distrik Agandugume . Dampak ini tercatat sekitar 7.500 penduduk mengalami kelapaaran dan enam orang diberitakan meninggal dunia .
Kejadian gagal panen yang mengakibatkan kali kedua ini terjadi , tepat bulan agustus lalu di distrik Lanny jaya . Ratusan warga distrik tersebut banyak mengalami kelaparan, seperti dikutip oleh BBC news .
Hal senada juga disampaikan oleh Sekjend Asosiasi wartawan Demokrasi Indoensia ( AWDI ) sangat prihatin dengan kondisi kelaparan di Papua . Ini diakibatnya kurang peka nya para pemimpin dalam preventif mencegah terjadi cuaca ekstrim tersebut . Tidak adanya Mitigasi bencana yang konkrit dari pihak – pihak terkait akan mengakibat peristiwa akan terulang lagi .
Maka dari itu Sekjend AWDI menghimbau dengan keras agar pemerintah serius membuat program cegah dini untuk wilayah di Papua . Khususnya distrik-distrik yang yang sering mengalami cuaca ekstrim .
Baca juga : Ketua MPRI RI Bambang Soesatyo Ikut Mendukung Pemerintah Tindak Tegas KKB di Papua
Akibat Gagal panen
Menilisik statemen para pemimpin BMKG , bidang Klimatologi bahwa cuaca ekstrim akan berakhir di bulan November . Ini mestinya menjadi perhitungan tersendri dalam menyelesaikan industri pertanian .
Peran serta Kemenpan , BMKG dan Pemda setempat menjadi penting . Dan harus rapat koordinasi sebelum kejadian . Dan logika nya dalah kalau ada informasi terkait peristiwa cuaca ekstrim yang berakibat gagal panen , mestinya bisa di antipasi sebelumnya , ” ungkap Anis Fuad Ir. Jika hanya sekedar kirim bantuan puluhan ton , peristiwa ini akan terulang di tahun depan di bulan yang sama .
Konsep cegah dini dengan membuat migitas plan sangat krusial dibutuhkan , agar probkem solving bisa tepat dan akurat , ” jelas B. Wadja SH .
Dia ungkapkan dengan tegas , pengiriman bantuan oleh pemerintah tidak cukup menyelesaikan masalah tersebut.
“Pemerintah itu selalu the last minute yang ditasi . Artinya proses kelaparan , kematian dan terjadi misalnya ada kematian, baru kita melakukan action atas musibah tersebut ,” ujar B. Wadja SH kepada forum diskusi . ( Tim red )

