• Fri. Apr 17th, 2026

Setelah Diskon Listrik Berakhir, Ekonom Perkirakan Inflasi akan Kembali Naik.

ByAF

Feb 10, 2025
Setelah Diskon Listrik Berakhir, Ekonom Perkirakan Inflasi akan Kembali Naik.

Jakarta , Intra62.com . Setelah program diskon tarif listrik berakhir pada akhir Februari 2025, Faisal Rachman, Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank, memperkirakan inflasi Maret 2025 cenderung kembali meningkat.

Faktor utama penyebab deflasi bulanan sebesar 0,76% bulan ke bulan (mtm) pada Januari 2025 adalah program diskon tarif listrik, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

“Mungkin (inflasi) rendah di Januari-Februari.  Tetapi kemungkinan besar akan melonjak di Maret,” kata Faisal dalam Media Briefing PIER Economic Review: FY 2024 yang diadakan secara virtual di Jakarta, Senin.

Ia menyatakan bahwa inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Januari 2025 yang terjaga rendah berada di bawah target Bank Indonesia (BI) dengan batas bawah 1,5 persen.

Pada bulan Januari tahun ini, ada defisit 0,76% mtm. Ini berbeda dengan tren sebelumnya, di mana pada bulan tersebut biasanya terjadi inflasi karena musim hujan yang berlangsung yang mendorong harga pangan naik.

Penurunan tajam dalam kelompok harga yang diatur pemerintah, atau kelompok harga yang diatur. Hal ini  menyebabkan deflasi Januari 2025 mencapai 7,38 persen per bulan.

Kelompok listrik, bahan bakar rumah tangga, air, dan perumahan mengalami deflasi tahunan sebesar 8,75% yoy, dengan andil deflasi sebesar 1,39%.

Faisal menjelaskan, “Secara komponen, housing, water, and electricity itu terkena deflasi 8,75% setiap tahun (yoy) di bulan Januari karena faktor itu (diskon tarif listrik). Tetapi jika kita menghilangkan faktor itu, inflasi masih akan cenderung di atas 1,5%, jadi memang ini sebagian besar karena listrik.

Inflasi akan meningkat lagi ketika tarif listrik kembali normal dan program diskon pemerintah tidak diperpanjang.

Selain itu, permintaan akan meningkat selama bulan Ramadan yang akan jatuh pada Maret 2025.

Pada Januari 2025, industri makanan, minuman, dan tembakau masih mengalami inflasi sebesar 3,69 persen yoy dengan andil inflasi 1,07 persen.

Secara keseluruhan, PermataBank memperkirakan inflasi Indonesia akan berada di kisaran 2 persen pada tahun 2025.

Inflasi Import

Baca juga : Kemenperin : Import Barang jadi Minta dibatasi , siapa yang suruh ?

Faisal juga menekankan kemungkinan inflasi impor sebagai akibat dari tekanan yang dihasilkan dari pelemahan rupiah yang terus-menerus. Biaya impor bahan baku akan meningkat sebagai akibat dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Yang pada akhirnya dapat menyebabkan kenaikan harga konsumen.

Ia memperkirakan bahwa karena tekanan dari seluruh dunia yang terus berlanjut.  Kemungkinan pemotongan suku bunga acuan BI atau BI-Rate ke depan akan sangat terbatas. Kondisi ini memberi tekanan pada capital outflow dan bahkan membuat rupiah menjadi lebih lemah.

Menurutnya, “tetapi dalam babak kedua, jika rupiah terus melemah, itu bisa memberikan inflation impor kepada sisi supply. Dan mungkin juga bisa dilewatkan ke sisi konsumen, itu memberikan risiko.”

(Anisa-red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/