Jakarta , intra62.com .- Plt Ketum AWDI Ajak Membumikan ” Suara kebenaran Jurnalis ” di tengah Pusaran Oligarki. Inilah tantangan Pers dan Anggota Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia dalam menuju 3 Dekade Pers berkibar. Hal ini disampaikan Balham Wadja SH dalam memperingati Hari Pers Nasional . Minggu ( 9 /2/2025 ).
Lebih lanjut Plt ketua Umum AWDI , Balham Wadja Menuturkan Pers Indonesia menghadapi tantangan dan peluang yang belum pernah terlihat sebelumnya di tengah derasnya arus informasi yang menggulung tanpa henti.
Di bawah pusaran oligarki yang sudah mendarah daging di pusat kekuasaan Republik , Pers Perlu keberanian yang ekstra dalam mengurai perilaku politik pejabat , ” Ujar Balham . Seiring dengan perkembangan Pers digital ini ,banyak media yang tererosi independensinya dalam menyuarakan kebenaran .
Sehingga dunia media telah diubah secara dramatis oleh era digital. Redaksi surat kabar sekarang bersaing dengan kecepatan algoritma dan keterlibatan audiens di media sosial daripada mesin cetak dan deadline edisi pagi.
Namun, di tengah kekacauan ini, satu hal tetap jelas: pers merupakan bagian penting dari demokrasi dan sumber ekonomi informasi.
Di seluruh dunia, disrupsi digital melanda media. Dengan model berlangganan yang kuat, raksasa media Amerika seperti The New York Times telah berkembang menjadi kekuatan digital global.
Mereka membangun kepercayaan pembaca yang bersedia membayar untuk berita yang dapat diandalkan dengan mengutamakan kualitas konten.
Di Inggris, The Guardian memilih untuk mengumpulkan donasi secara sukarela, mengandalkan solidaritas pembacanya untuk mempertahankan kebebasan pers.
Baca juga :Bagaimana Dewan Pers Melindungi Kemerdekaan Pers ?

Kedua metode ini menunjukkan bahwa model bisnis media harus berubah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru tanpa mengorbankan nilai jurnalistik.
Dinamika di Indonesia unik. Dengan lebih dari 270 juta orang, sebagian besar orang mengakses berita melalui ponsel pintar mereka, terutama platform media sosial seperti Facebook, Instagram, X, dan TikTok.
Meskipun demikian, ketergantungan pada media sosial membawa bahayanya sendiri, karena algoritma yang memprioritaskan keterlibatan seringkali berfokus pada sensasi daripada fakta.
(Anisa-red)
