• Sat. Apr 18th, 2026

Pada tahun 2025, Permata Bank akan menghasilkan laba bersih sebesar Rp3,6 Triliun.

ByBunga Lestari

Feb 13, 2026

Jakarta, Intra62.com –

Pada akhir tahun 2025, PT Bank Permata Tbk (Permata Bank) mengantongi laba setelah pajak sebesar Rp3,6 triliun, dengan total pendapatan tumbuh sebesar 3,8 persen menjadi Rp12,6 triliun.

Pendapatan non-bunga Permata Bank tercatat meningkat sebesar 34,1 persen menjadi 2,6 triliun rupiah.

Di Jakarta, Kamis, Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli menyatakan, “Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhannya di tengah dinamika perekonomian dan industri perbankan Indonesia sepanjang tahun 2025 dengan tetap disiplin, prudent, dan konsisten menempatkan nasabah sebagai pusat dari setiap rencana dan keputusan.”

Secara tahunan, total aset Permata Bank akan meningkat sebesar 3,6 persen menjadi Rp268,3 triliun pada tahun 2025.

Pada periode yang sama, penyaluran kredit meningkat sebesar 5,5 persen yoy menjadi Rp163,3 triliun, terutama didorong oleh pertumbuhan segmen korporasi sebesar 11,2 persen yoy menjadi Rp99,6 triliun.

Selama periode yang sama tahun lalu, rasio NPL gross dan loan at risk (LAR) masing-masing berada pada level 2,1 persen dan 4,3 persen. Ini merupakan kombinasi dari kinerja kredit yang baik dan kualitas kredit yang tetap stabil dan sehat.

Perseroan terus mempertahankan rasio coverage NPL dan LAR yang memadai pada level 356 persen dan 171 persen, masing-masing, untuk menjaga kebutuhan pencadangan atas potensi penurunan kredit secara konservatif.

Dari sisi pendanaan, perseroan mencatat peningkatan simpanan nasabah sebesar 3,9 persen yoy menjadi Rp192,8 triliun, terutama berkat pertumbuhan CASA sebesar 20,1 persen.

Selain itu, rasio CASA Permata Bank meningkat menjadi 63,9 persen dari 55,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, perusahaan terus menjaga tingkat likuiditasnya pada tingkat yang sehat melalui manajemen struktur neraca yang sangat baik. Ini ditunjukkan oleh rasio loan to deposit (LDR) sebesar 84,5% pada tahun 2025.

Selain itu, rasio likuiditas yang didasarkan pada ketentuan Basel III tetap jauh di atas batas minimum undang-undang sebesar 100%.

Permata Bank mencatat liquidity coverage ratio (LCR) rata-rata pada 296,5 persen dan net stable funding ratio (NSFR) pada 126,8 persen pada akhir kuartal keempat tahun 2025.

Menurut Permata Bank, struktur permodalan termasuk rasio CAR sebesar 34,6 persen dan CET-1 sebesar 26,6 persen pada akhir 2025.

Rasio permodalan perseroan adalah salah satu yang terkuat di antara bank umum komersial terbesar di Indonesia, menurut perusahaan.

Organisasi mengatakan bahwa permodalan yang kuat sangat penting untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di masa depan, baik organik maupun anorganik.

Selain itu, kinerja unit usaha syariah (UUS) perusahaan terus menunjukkan peningkatan, dengan laba operasional sebelum provisi sebesar Rp785,3 miliar, tumbuh 8,1 persen per tahun.

Pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang tumbuh mencapai 6,5% yoy dan konsistensi pengendalian biaya yang baik mendukung pertumbuhan ini.

Pada bagian pendanaan, simpanan nasabah UUS Permata Bank mencapai Rp27,0 triliun, didorong oleh pertumbuhan CASA sebesar 13,4 persen per tahun.

Ini meningkatkan rasio CASA UUS menjadi 73,6%, lebih tinggi dari rata-rata sektor perbankan syariah Indonesia.

UUS Permata Bank terus berkonsentrasi pada peningkatan dana pihak ketiga (DPK), terutama pendanaan murah yang stabil, dan terus mengembangkan jaringan komunitas syariah di industri perbankan Indonesia.

(Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/