Jakarta, Intra62.com – Mark Rutte, Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), meminta para sekutu untuk meningkatkan inovasi dan investasi di bidang bioteknologi untuk meningkatkan keunggulan militer aliansi.
Rutte menggambarkan Konferensi Bioteknologi Pertama NATO di Belgia pada Selasa (28/10) sebagai “langkah yang berarti” untuk meningkatkan kerja sama dan memanfaatkan potensi bioteknologi.
Menurutnya, bagian penting dari hal ini adalah meningkatkan inovasi bioteknologi. Ini akan membantu memastikan militer kita memiliki kemampuan terbaik dan tercanggih.
Dia menekankan fakta bahwa pertahanan kontemporer membutuhkan lebih dari sekadar aset militer konvensional.
Dia menyatakan bahwa untuk tetap aman, tidak hanya kita membutuhkan tank, jet, kapal, drone, dan amunisi. Kita juga perlu mengembangkan, memperoleh, dan mengintegrasikan bioteknologi ke dalam kemampuan pertahanan kita.
Dia memperingatkan bahwa musuh bidang seperti China dan Rusia telah berkembang pesat.
Baca Juga : Kementrian Pangan: Nasib Produktivitas Lahan Ditentukan Oleh Benih Berkualitas Tinggi.
Dia menyatakan bahwa Rusia ingin menggunakan alat-alat berbahaya, seperti program senjata biologisnya, yang dapat digunakannya untuk melawan musuh-musuhnya.
Rutte memperingatkan bahwa kita tidak boleh membiarkan mereka memanfaatkan keuntungan ini, merujuk pada China, Rusia, dan negara-negara lain seperti Korea Utara dan Iran.
Dia mengacu pada kemajuan NATO sendiri, terutama Strategi Bioteknologi & Peningkatan Manusia aliansi dan upaya Akselerator Inovasi Pertahanan untuk Atlantik Utara (DIANA), yang selama dua tahun terakhir telah mendukung “total 28 perusahaan bioteknologi yang menjanjikan.”
Di akhir sambutannya, dia menyatakan bahwa NATO memiliki “infrastruktur kelas satu, tenaga kerja yang sangat terampil, kemampuan penelitian dan pengembangan yang kuat, dan masih banyak lagi,” dan meminta sekutu “untuk meningkatkan upaya guna memastikan kita tetap berada di garda terdepan dalam revolusi bioteknologi.”
( Red ).
