Jakarta, Intra62.com –
Sebagai bagian dari upaya untuk mencegah keluarga yang berisiko stunting, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengumumkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di Pemalang, Jawa Tengah, Kamis, Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji menyatakan, “Ini (MBG) bukan program biasa. Kita bicara tentang ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, sehingga salah sasaran sedikit saja maka dampaknya besar.”
Ia menyatakan bahwa tujuan kedatangan mereka adalah untuk memastikan bahwa program MBG mencapai sasarannya, khususnya untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (Kelompok 3B).
Akibatnya, saya melakukan inspeksi langsung ke Pemalang. Mendukbangga Wihaji menyatakan bahwa instruksi pusat sudah jelas bahwa kualitas (MBG) kini menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, kritik masyarakat harus terus disampaikan dan tidak boleh diabaikan.
Dia menyatakan bahwa saat ini ada sekitar 8,6 juta keluarga yang rentan terhadap stunting (KRS), dan salah satu upaya untuk mengatasi masalah ini adalah Program Pemeliharaan Keluarga dan Anak (MBG).
Dia menambahkan bahwa kriteria KRS termasuk balita yang mungkin mengalami kekurangan gizi akibat faktor lingkungan seperti akses ke air bersih, kondisi rumah yang tidak layak huni, dan pola makan yang buruk.
Namun, di Kabupaten Pemalang, ia langsung menemukan bahwa kondisi rumah warga tidak memenuhi standar kelayakan karena jarak antara kamar mandi dan dapur sangat dekat.
Dia mengatakan bahwa untuk menangani masalahnya, dilakukan kerja sama dengan lembaga seperti Baznas dan rumah zakat untuk memperbaiki fasilitas tinggal dan sanitasi, dan program MBG memastikan asupan gizi yang cukup.
Pada kunjungan kegiatan di Kabupaten Pemalang, Mendukbangga Wihaji mengatakan mereka menargetkan penurunan angka stunting pada tahun ini menjadi 18,8% dari 19,8% sebelumnya. Mereka juga menargetkan penurunan angka stunting dalam jangka panjang hingga 14% pada tahun 2029.
Wihaji menganggap prevalensi saat ini masih mengkhawatirkan, dengan prevalensi hampir 20%, yang berarti sekitar dua dari setiap sepuluh bayi mengalami stunting.
Dia berkata, “Ini tidak bisa dibiarkan karena hal ini berkaitan dengan kualitas generasi ke depan.”
Ia menyatakan bahwa penanganan stunting dan penyebaran MBG tidak dapat dilakukan oleh satu kementerian karena berbagai sektor harus bekerja sama.
Pemerintah, masyarakat, bisnis, akademisi, dan peran media dimasukkan dalam pendekatan Pentahelix. Mendukbangga Wihaji menyatakan bahwa kepala daerah adalah orang yang paling tahu tentang kondisi daerah, jadi semua orang harus terlibat, tidak bisa jalan sendiri.
Baca Juga : BPJPH Membuat Alat Kebijakan Sertifikasi Halal Dapur MBG.
Baca Juga : BGN: MBG Diperlukan untuk 65% Masyarakat Indonesia.
(Red).
