• Thu. Jun 4th, 2026

ketegangan Elite NU Kuasa Tambang sampai Tafsir

ByMAS

Dec 24, 2025

Jakarta, Intra62.com – Ketegangan elit NU tidak hanya masalah ekonomi, lingkungan, atau kepatuhan regulasi, masalah pemberian konsesi tambang kepada organisasi keagamaan telah menimbulkan banyak perdebatan.

Baca Juga : Menghadapi Konflik PBNU, Menag Berharap Hasil Yang Positif.

Isu ini memicu pertanyaan yang lebih mendasar di tubuh Nahdlatul Ulama (NU), seperti bagaimana keputusan strategis dilegitimasi secara agama, siapa yang memiliki otoritas untuk menafsirkannya, dan bagaimana tafsir digunakan dalam struktur kekuasaan.

Diskusi ketegangan elit NU tidak terjadi secara kebetulan, itu berkaitan langsung dengan bagaimana kekuasaan dalam organisasi berfungsi, terutama tentang hubungan antara otoritas eksekutif organisatoris dan otoritas normatif keilmuan.

Relasi ini semakin terlihat dalam konteks modern ketika masalah tambang menjadi kebijakan strategis organisasi. Namun, ada beberapa orang yang melihat masalah ini sebagai keputusan yang dibuat dalam ruang pertimbangan yang terbatas.

Secara struktural, NU memahami pembagian otoritas yang unik. Rais aam menjaga otoritas normatif dan keilmuan tertinggi, dan ketua umum tanfidziyah mewakili organisasi ke ruang negara, politik, dan kebijakan publik.

Ketegangan antara dua bidang ini tidak selalu terlihat sebagai konflik terbuka di dunia modern. Sebaliknya, mereka bekerja secara diskursif melalui bahasa, legitimasi, dan simbol otoritas.

Sepanjang sejarah, posisi Rais Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar dianggap sebagai simbol otoritas moral dan kehati-hatian etika yang menjadi rujukan warga NU, posisi ini selama ini dipahami sebagai penjaga standar, nilai, dan batas-batas kepantasan keagamaan.

Sementara itu, Yahya Cholil Staquf, sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, memimpin organ eksekutif yang berurusan dengan logika kebijakan publik, hubungan kekuasaan, dan kenyataan negara.

Bahasa agama, seperti yang berkaitan dengan kebaikan, kepentingan umum, atau stabilitas negara, berfungsi sebagai alat legitimasi yang efektif. Ini adalah tempat pengetahuan berfungsi sebagai kuasa, menenangkan penentangan, membatasi ruang kritik, dan mengatur cara masyarakat melihat kebijakan.

Dinamika ini sangat dipengaruhi oleh struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. PBNU bukan hanya lembaga administrasi; itu juga sumber diskusi resmi organisasi. Keputusan yang melibatkan nama PBNU langsung memperoleh kekuatan simbolik yang signifikan.

(Red).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/