Jakarta, Intra62.com –
Kementerian Kesehatan menggandeng industri untuk membantu mencegah penyakit tidak menular, terutama diabetes, dengan menerapkan label gizi atau nutri level.
Di Jakarta, Jumat, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyatakan bahwa gaya hidup adalah salah satu penyebab risiko penyakit tidak menular. Pola makan adalah salah satu faktor risiko tersebut. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa jumlah minuman manis yang dikonsumsi lebih dari batas terus meningkat.
Dalam konferensi pers yang diadakan oleh Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) dan Kalbe Farma, Nadia menyatakan, “Rata-rata konsumsi gula masyarakat Indonesia sudah mencapai, satu kali minum ya, itu dia sudah bisa mencapai 50% kebutuhannya.”
Oleh karena itu, pada tahap awal edukasi nutrisi tingkat rendah kepada pelaku usaha dan masyarakat, gula menjadi fokus utama pelabelan tersebut. Pelabelan ini difokuskan pada produk makanan dan minuman siap saji karena Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih menyiapkan aturan untuk makanan dan minuman kemasan.
Dia menjelaskan bahwa Nutri-level dibuat untuk membuat masyarakat mudah memahami kandungan gula, garam, dan lemak suatu produk. Selama ini, masyarakat memiliki informasi tentang nilai gizi, tetapi mereka tidak terlalu memahaminya.
Ada empat tingkatan desain Nutri-level, kata Nadia. A berwarna hijau tua, B hijau muda, C berwarna kuning, dan D berwarna merah. Dia menyatakan bahwa orang Indonesia memahami skala nilai berdasarkan alfabet, menurut survei. Selain itu, karena hijau, kuning, dan merah identik dengan lampu lalu lintas, mereka lebih dikenal oleh masyarakat.
Selain itu, Nadia mengatakan bahwa kadar gula dalam produk dihitung dengan persentase karena lebih mudah dipahami daripada miligram (mg).
Karena baru diluncurkan kemarin, kami berfokus pada industri besar. Namun, industri kecil dan menengah juga dapat berpartisipasi. Dia mengatakan bahwa pengujian laboratorium akan menjadi masalah utama, jadi pemerintah daerah atau mungkin pemerintah pusat dapat membantu.
Menurutnya, dengan adanya edukasi tingkat nutrisi ini, industri diharapkan dapat menyesuaikan dan menyediakan produk yang lebih beragam kepada pelanggan, dan konsumen dapat mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat.
Mulia Lie, direktur Kalbe Farma, menyatakan bahwa perusahaan akan mendukung kebijakan pemerintah dan berkomitmen untuk menyediakan produk berkualitas tinggi dan bernutrisi, serta memberikan edukasi melalui label gizi yang tepat.
Dia mengatakan, “Dan jadi kita senang sekali begitu pemerintah meluncurkan program ini untuk mengedukasi. Kita senang karena bagi kami, edukasi preventif lebih baik daripada kuratif.”
Salah satu pemangku kepentingan yang diajak berbicara tentang label gizi ini adalah Mulia. Setelah stok kemasan habis, perusahaannya akan langsung mengikuti inisiatif tersebut.
Baca Juga : DPD Republik Indonesia Meminta Kemenkes Mempercepat Penugasan dokter-nakes di Papua Barat Daya.
Baca Juga : Rumus Baru untuk Harga Patokan Mineral Telah Diterapkan oleh Kementerian ESDM.
(Red).
