Jakarta, Intra62.com – Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ungkap BP AKR kembali memesan 100 ribu barel bahan bakar minyak (BBM) dari Pertamina Patra Niaga dalam waktu dua pekan.
Ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM di Jakarta, Jumat, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Laode Sulaeman menyatakan, “Ungkap BP AKR akan menerima pesan tambahan satu kargo 100 ribu (barel) pada minggu ketiga November.”
BP menambahnya sebagai hasil dari pembelian bahan bakar dasar 100 ribu barel dari Pertamina Patra Niaga pada akhir Oktober 2025.
Laode mengatakan bahwa pemerintah mungkin kembali menggunakan skema tambahan 10% untuk kuota impor untuk perusahaan pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta hingga 2026.
Saat ini, pemerintah telah memperoleh data dari badan usaha swasta; namun, mereka masih belum menetapkan jumlah kuota yang akan diberikan.
Baca Juga : Kementerian ESDM Menjamin Bahwa Pertamina Menangani Keluhan Pertalite.
Itu mungkin polanya, 100 plus 10 persen. Tapi referensi tahunan mungkin berbeda. Laode berkata, “Kalau kemarin tahun 2024, sekarang tahun 2025.”
Sejak pertengahan Agustus 2025, ada kekurangan bahan bakar minyak (BBM) di beberapa SPBU swasta, termasuk BP.
Badan usaha pengelola SPBU swasta, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Pertamina melakukan sejumlah perundingan.
Selain itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta badan usaha pengelola SPBU swasta untuk memanfaatkan kuota impor Pertamina untuk mengembalikan stok BBM di SPBU mereka.
Sekarang stok BBM di SPBU BP mulai pulih setelah dua bulan negosiasi.
Menurut Laode, selain bp, Vivo juga sedang dalam proses perjanjian untuk membeli sekitar 100 ribu barel bahan bakar minyak dari Pertamina Patra Niaga.
Sebaliknya, Laode mengungkapkan bahwa dia akan bertemu dengan Shell untuk membahas kesepakatan BBM, sementara negosiasi dengan Shell masih berlangsung saat ini.
(Red).
