Jakarta, Intra62.com –
Untuk mengatasi pelemahan rupiah, Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan lainnya. Nilai tukar rupiah kini menembus level baru pada kisaran Rp17.900-an per dolar AS.
Menurut Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI, semua pemangku kepentingan harus bekerja sama untuk menjaga nilai tukar rupiah stabil.
“Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” kata Ramdan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu.
Selain itu, Ramdan memastikan bahwa bank sentral Indonesia terus memantau perkembangan pasar keuangan domestik dan internasional.
Selain itu, BI menjaga kehadiran di pasar dengan mengambil tindakan yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meningkatkan ketahanan eksternal.
Ramdan menyatakan bahwa bank Indonesia terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakannya untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan.
Mulai 2 Juni 2026, BI telah menetapkan ambang tunai untuk pembelian valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi 25.000 dolar AS per bulan sebagai bagian dari upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Selain itu, BI terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema transaksi mata uang lokal (LCT). Ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mengurangi risiko nilai tukar yang tidak stabil.
LCT telah bekerja sama dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Baca Juga : Ekonom: Intervensi BI Agresif Untuk Mempertahankan Nilai Tukar di Bawah Rp17.000.
Baca Juga : Perundingan AS-China Tetap Berjalan Sesuai Rencana, Nilai Tukar Rupiah Terus Menguat.
(Red).
