• Tue. May 5th, 2026

Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia Melambat, Menurut BPS.

ByBunga Lestari

May 5, 2026

Jakarta, Intra62.com –

Menurut data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, laju pertumbuhan penduduk Indonesia akan melambat, menurut Badan Pusat Statistik (BPS).

Hasil sensus tahun 2020 menunjukkan pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,1% per tahun, yang lebih lambat dari angka tahun sebelumnya.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan bahwa populasi Indonesia terus meningkat dengan laju 1,08 persen per tahun dalam lima tahun terakhir, dengan setengah populasi terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Untuk informasi lebih lanjut, BPS telah merilis berbagai indikator kependudukan berdasarkan hasil pendataan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Tahun 2025.

SUPAS sendiri digunakan di antara dua periode survei penduduk untuk mengukur mobilitas, fertilitas, dan mortalitas.

Berdasarkan SUPAS 2025, jumlah penduduk Indonesia mencapai 284,67 juta orang, dengan 55,65 persen di antaranya tinggal di Pulau Jawa, menurut BPS.

Menurut Long Form Sensus Penduduk 2020 (LF SP2020), laju pertumbuhan penduduk tercatat sebesar 1,08 persen per tahun. Ini adalah penurunan dari kondisi sebelumnya sebesar 1,10 persen.

Berdasarkan usia, sekitar 68,92 persen penduduk Indonesia adalah Gen-Z (kelahiran 1997–2012), Milenial (kelahiran 1981–1996), dan Post-Gen Z (kelahiran 2013 ke atas).

Menurut hasil SUPAS 2025, rasio ketergantungan penduduk mencapai 45,05, yang berarti bahwa setiap 100 orang usia produktif menanggung 45 orang usia nonproduktif. Ini naik dari 44,33 pada pendataan LF SP2020.

Selanjutnya, Amalia melaporkan bahwa angka kelahiran total atau tingkat kelahiran total (TFR) pada SUPAS 2025 adalah 2,13, atau turun dari 2,18 pada pendataan LF SP2020.

Penurunan TFR ini sebagian besar disebabkan oleh penurunan yang signifikan dalam angka kelahiran pada perempuan berusia 15-19 tahun dan 20-24 tahun.

Angka Kematian Bayi atau Angka Kematian Bayi (IMR) menunjukkan tren yang menurun dari waktu ke waktu. IMR berdasarkan SUPAS 2025 adalah 14,12 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup, turun dari 16,85 IMR pada LF SP2020.

IMR pada SUPAS 2025 bahkan hampir sama dengan kondisi SP2010, yaitu 26,09 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup.

Selain itu, Rasio Kematian Ibu Melahirkan (MMR), juga menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan SUPAS 2025, MMR turun menjadi 144 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup, atau turun dari 189 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup pada LF SP2020.

Pada pendataan SP2010, yang menunjukkan 346 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup, MMR pada SUPAS 2025 turun lebih dari setengah kondisi.

 

BPS juga melaporkan peningkatan migrasi masuk dan keluar internasional dari hasil SUPAS 2025 dibandingkan dengan LF SP2020. DKI Jakarta memiliki persentase migrasi keluar provinsi terbesar di negara ini, baik seumur hidup maupun risen.

Selain itu, Rasio Kematian Ibu Melahirkan (MMR), juga menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan SUPAS 2025, MMR turun menjadi 144 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup, atau turun dari 189 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup pada LF SP2020.

Pada pendataan SP2010, yang menunjukkan 346 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup, MMR pada SUPAS 2025 turun lebih dari setengah kondisi.

 

BPS juga melaporkan peningkatan migrasi masuk dan keluar internasional dari hasil SUPAS 2025 dibandingkan dengan LF SP2020. DKI Jakarta memiliki persentase migrasi keluar provinsi terbesar di negara ini, baik seumur hidup maupun risen.

Baca Juga :BPS Siap Menyediakan Data untuk Mendorong Pemenuhan Hak Anak.

Baca Juga : BPS Menemukan Bahwa 11 Ribu KPM Tidak Lagi Layak Mendapatkan Bansos.

(Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/