Jakarta, Intra62.com –
Merespons pelemahan nilai tukar yang menembus Rp17.000 per dolar AS, Bank Indonesia (BI) mengoptimalkan pemanfaatan instrumen operasi moneter dan kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Dalam keterangan resmi yang dikeluarkan di Jakarta, Selasa, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyatakan bahwa stabilitas Bank Indonesia saat ini menjadi prioritas di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi.
Selain itu, Destry menyatakan bahwa, baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, maupun Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, BI selalu konsisten dan terukur.
Selain itu, dia menyatakan bahwa dampak konflik di Timur Tengah bersifat dua arah. Perekonomian mungkin mendapat manfaat dari kenaikan harga komoditas serta posisi Indonesia sebagai negara eksportir karena mampu mengimbangi tekanan nilai tukar yang disebabkan oleh eskalasi tersebut.
Pada penutupan perdagangan hari Selasa, nilai tukar rupiah melemah 70 poin, atau 0,41 persen, menjadi Rp17.105 per dolar AS. Ini turun dari penutupan sebelumnya di level Rp16.980 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah dari sebelumnya Rp17.037 ke level Rp17.092.
Sebelumnya, BI juga menyatakan bahwa mereka akan melakukan kalibrasi instrumen intervensi rupiah dalam menghadapi ketidakpastian global yang disebabkan oleh perang Timur Tengah dengan menyesuaikan tindakan mereka terhadap tiga skenario dampak perang, yaitu jika harga minyak dunia tidak terlalu tinggi, menengah, atau tinggi.
Menjaga cadangan devisa dan respons kebijakan suku bunga memperkuat upaya tersebut, kata Gubernur BI Perry Warjiyo.
“Kami terus mengoptimalkan tiga instrumen intervensi di moneter dengan kecukupan cadangan devisa dan diperkuat dengan kebijakan suku bunga,” kata Perry dalam konferensi pers online hasil RDG BI pada Selasa (17/3).
Untuk mengurangi efek perang Timur Tengah, bank sentral percaya bahwa kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) harus diperkuat terus menerus.
Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan dapat ditingkatkan melalui berbagai upaya untuk meningkatkan kinerja neraca pembayaran.
Data terbaru menunjukkan bahwa Neraca Perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 1,27 miliar dolar AS pada Februari 2026, meningkat dari surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS pada Januari 2026.
Namun, pada akhir Februari 2026, cadangan devisa Indonesia masih sebesar 151,9 miliar dolar AS.
Ini melebihi standar kecukupan internasional dan setara dengan pembiayaan impor 6,1 bulan atau 5,9 bulan dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Baca Juga : Rumah Ono Surono di Bandung disita oleh KPK dengan uang ratusan juta rupiah.
Baca Juga : Rumah Ono Surono di Bandung disita oleh KPK dengan uang ratusan juta rupiah.
(Red).
