Jakarta, Intra62.com. Teknologi Baterai Natrium dapat bertahan lebih lama daripada Baterai Lithium. Industri kendaraan listrik (EV) telah mengalami peningkatan yang signifikan. Baterai lithium-ion telah lama menjadi favorit, tetapi pesaing baru, baterai berbasis sodium atau natrium, diharapkan akan mengubah peta persaingan.
HiNa Battery, perusahaan baterai asal China, didukung oleh JAC Motors, pabrikan mobil, dalam perkembangan ini, menurut Carnewschina. Kedua perusahaan mengklaim bahwa pada tahun 2027, teknologi baterai sodium bahkan dapat melampaui kinerja baterai lithium-ion.
Baterai sodium tampak cukup baik dalam pengujian terbaru, terutama untuk kendaraan komersial. Truk listrik yang menggunakan teknologi ini dapat menjalankan jarak tempuh hingga 20% lebih lama daripada baterai lithium-ion biasa.
Hasil ini menunjukkan bahwa baterai sodium sudah mulai masuk ke fase komersialisasi dan tidak lagi sekadar opsi. Selain itu, HiNa Battery menyatakan bahwa pengembangannya telah memasuki tahap produksi kendaraan niaga.
Baterai sodium memiliki keunggulan besar karena dapat bertahan di suhu ekstrim. Dibandingkan dengan baterai lithium-ion, baterai sodium tetap stabil pada suhu hingga -40 derajat Celsius.
Kemampuan ini membuatnya sangat cocok untuk digunakan di daerah dengan iklim dingin ekstrim. Selain itu, membuatnya lebih populer di seluruh dunia, meningkatkan potensi penggunaan kendaraan listrik.
Baterai sodium lebih cepat terisi hanya dalam 20–30 menit, menurut pengujian.
Keunggulan ini sangat penting, terutama untuk kendaraan komersial yang membutuhkan waktu operasi yang paling lama dan paling sedikit downtime.
Baterai sodium tidak membutuhkan bahan langka seperti kobalt atau nikel, karena sodium lebih murah daripada lithium.
Diproyeksikan bahwa harga sel baterai sodium akan jauh lebih rendah di seluruh dunia dibandingkan dengan baterai lithium iron phosphate (LFP). Hal ini membuka peluang untuk kendaraan listrik dengan harga yang lebih murah di masa depan.
Masuk ke Proses Produksi Massal
Sejumlah produsen besar seperti CATL dan BYD sekarang mulai mengarah ke produksi massal dan aplikasi praktis dalam perkembangan baterai sodium, yang sebelumnya hanya terbatas pada tahap penelitian.
Bahkan, kendaraan listrik penumpang pertama yang menggunakan baterai sodium dikabarkan telah diproduksi di China dan direncanakan untuk dijual secara terbatas pada tahun 2026.
Baterai sodium memiliki potensi yang bagus, tetapi mereka masih menghadapi masalah utama: mereka memiliki kepadatan energi yang lebih rendah daripada baterai lithium-ion.
Artinya, baterai lithium masih menjadi pilihan utama untuk kendaraan penumpang yang membutuhkan penggunaan jarak jauh.
Baterai sodium diprediksi akan menjadi solusi penting untuk industri kendaraan listrik di masa depan karena berbagai keuntungan, termasuk harga yang lebih rendah, tingkat keamanan yang lebih tinggi, dan kemampuan yang optimal untuk suhu ekstrim.
Baterai sodium mungkin menjadi standar baru mulai 2027, terutama untuk mobil komersial dan mobil listrik entry-level, jika tren ini terus berlanjut.
Baca juga : Mobil listrik Lucid Sekali isi daya 1.205 km , Pecah Rekor Dunia
( Anisa-red )
