Jakarta, Intra62.com – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), yang memulai teknologi multistage fracturing (MSF) pertama di Indonesia, menerima penilaian yang positif dari Muhammad Kholid Syeirazi, direktur Center for Energy Policy.
Dia mengatakan bahwa pengembangan teknologi ini dapat membantu produksi minyak mentah. Ini juga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan cadangan ketahanan energi untuk mendukung swasembada energi.
Dia menyatakan bahwa Pertamina adalah pionir dalam teknologi tersebut, sementara perusahaan minyak global lainnya, termasuk Shell di Amerika Serikat, menerapkan MSF.
Kholid direktur Center for Energy mendukung pengembangan teknologi ini di tempat kerja lain seperti di Cepu dan Jatibarang, tetapi dengan mempertimbangkan peningkatan produksi dan biaya.
Baca Juga : Menteri Bahlil Meninjau Teknologi DME China Dan Korea-Eropa.
Namun, dia percaya bahwa Pertamina tentu realistis, artinya, ketika mengembangkan teknologi ini di tempat lain, tentu sudah mempertimbangkan keekonomian dengan matang.
Kholid menyatakan bahwa untuk mendukung kemandirian energi nasional, penerapan teknologi termasuk MSF dapat sangat membantu meningkatkan ketahanan energi.
Dia memperkirakan bahwa penerapan teknologi tersebut di PHR dapat meningkatkan produksi setidaknya 50 ribu barel per hari.
MSF didirikan oleh Pertamina untuk mendukung peningkatan produksi gas dan minyak yang dikelola PHR. Pertamina juga menjadi pionir penerapan teknologi MSF di Indonesia, yang membuka peluang untuk mengoptimalkan cadangan energi nasional secara lebih efisien.
MSF adalah teknologi migas terbaru yang meningkatkan produktivitas sumur dengan membuat beberapa rekahan di sepanjang sumur horisontal.
Teknologi ini memungkinkan peningkatan produksi yang signifikan dengan mengoptimalkan cadangan gas bumi dan minyak dari satu sumur horisontal.
Baca Juga : NATO Meminta Penggunaan Bioteknologi Meningkatkan Pertahanan.
(Red).
