Jakarta, Intra62.com – Menurut Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dapat mengimbangi efek gejolak global dengan defisit yang masih di bawah 3%.
Juda menyatakan bahwa Kementerian Keuangan secara teratur menilai berbagai situasi global, seperti kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah.
Di Jakarta, Selasa, Juda menyatakan, “Stress-test yang kami lakukan pada skenario yang cukup plausible itu menunjukkan bahwa defisit tetap di bawah tiga persen dan rasio utang terhadap PDB juga tetap stabil.”
Menurut Wamenkeu, setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar satu dolar AS dapat meningkatkan defisit sebesar Rp6,8 triliun.
Sementara itu, defisit sebesar Rp0,8 triliun dipengaruhi oleh pelemahan Rp100 terhadap dolar AS, dan kenaikan imbal hasil (yield) 0,1 persen dapat menambah beban sebesar Rp1,9 triliun.
Namun, hasil tes stres pada skenario yang dinilai cukup kredibel menunjukkan bahwa defisit masih ada.
Dia juga menambahkan, “APBN itu memang dirancang dengan prinsip prudent, disiplin, dan fleksibel. Prudent dan disiplin, kami memastikan defisit di bawah tiga persen.”
Untuk meningkatkan ketahanan fiskal, Kementerian Keuangan terus mendiversifikasi sumber pendanaan.
Jika sebelumnya dolar AS adalah pusat pembiayaan global, sekarang pemerintah memperluas basis investor dan mata uang.
Kemekeu menerbitkan surat utang global senilai 4,5 miliar dolar AS dalam mata uang euro dan renminbi.
Menurut Juda, imbal hasil surat utang dengan mata uang renminbi berkisar antara 2 dan 3 persen, dan dengan mata uang euro 4-5 persen.
Dia menyatakan, “Ini masih sangat bagus untuk pasar global kita.”
Di bidang investasi, pemerintah telah memasukkan proyeksi investasi asing ke dalam skenario pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, entitas baru pemerintah, Danantara, kini membantu investasi domestik.
Fokus belanja APBN saat ini adalah meningkatkan konsumsi pemerintah dan kesejahteraan masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah, kata Wamenkeu.
Meskipun demikian, lebih banyak investasi didanai melalui Danantara serta dukungan investasi luar negeri.
Wamenkeu optimis bahwa dengan instrumen-instrumen ini, keseimbangan antara penerimaan dan belanja negara dapat dijaga di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga : Prabowo Siapkan APBN untuk 770 Ribu Rumah hingga 2026
Baca Juga : Pemerintahan Trump Meluncurkan Situs Web Baru Untuk Menurunkan Harga Obat.
(Red).
