Jakarta, Intra62.com – Pada pembukaan perdagangan hari Senin di Jakarta, nilai tukar rupiah diprediksi melemah sebesar 19 poin, atau 0,11 persen, menjadi Rp16.726 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.707 per dolar AS.
Lukman Leong, analis mata uang dari Doo Financial Futures, memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah diprediksi akan sedikit menguat didukung sentimen pasar yang pulih, tetapi dia tidak puas dengan pernyataan pejabat Federal Reserve.
Pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Desember 2025, Presiden Federal Reserve Atlanta Raphael Bostic mengatakan dia ingin tingkat suku bunga Federal Reserve dipertahankan.
Baca Juga : Rupiah Dipengaruhi Ekspektasi Suku Bunga Acuan The Fed Akan Bertahan Tinggi Lebih Lama.
Selain itu, Presiden Federal Reserve Bank Kansas City Jeff Schmid menyatakan bahwa inflasi AS masih sangat tinggi, dan Lorie Logan, Presiden Federal Reserve Bank Dallas, menentang pemangkasan suku bunga.
Seperti yang diketahui, Federal Reserve memangkas suku bunga acuan 25 basis point (bps) menjadi kisaran 3,75-4 persen selama rapat FOMC pada 29 Oktober 2025. Namun, Jerome Powell, ketua Federal Reserve, menyatakan bahwa belum ada kepastian apakah pemangkasan lebih lanjut akan dilakukan pada pertemuan FOMC yang akan dilakukan kembali pada 9-10 Desember.
Selain itu, investor juga cenderung menantikan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) dan pengumuman neraca transaksi berjalan kuartal III-2025 Indonesia.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah saat ini diperkirakan berkisar antara Rp16.650 dan Rp16.750.
Baca Juga : Sentimen Konsumen AS Lebih Rendah Perkiraan Karena Rupiah Menguat.
(Red).
