Jakarta, Intra62.com – Presiden Rusia Vladimir Putin menuntut mantan Presiden AS Donald Trump “bermotif politik” menjelang pemilihan presiden 2024.
Putin menyebut penuntutan terhadap Trump sebagai “Tekanan bermotif politik.”
“Mengenai penindasan terhadap Trump, bagi kami, dalam situasi saat ini, ini adalah hal yang baik karena menunjukkan kebusukan sistem Amerika,” kata Putin di Far East Economic Forum di Vladivostok, Selasa (12/9/2023).
Baca Juga: Partai Amanat Nasional (PAN) Angkat Bicara Soal Viralnya Video Zulhas
AFP mengutip perkataan Putin: “Ini adalah penindasan bermotif politik terhadap musuh-musuhnya.” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Putin juga mengatakan bahwa perubahan signifikan dalam hubungan AS-Rusia tidak mungkin terjadi, terlepas dari siapa Presiden AS selanjutnya.
Pada masa Trump, hubungan AS dan Rusia sangat erat, meski tidak secara terbuka. Rusia juga berulang kali dituduh melakukan campur tangan dalam pemilu AS agar Trump bisa menang.
Saat ini, Trump menghadapi serangkaian dakwaan yang memaksa mantan orang nomor satu AS itu menyerahkan diri di Penjara Fulton pada (24/8/2023).
Faktanya, Trump telah mengumumkan akan kembali mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2024 bersama Partai Republik.
Catatan penjara menunjukkan Trump ditangkap dan diberi nomor narapidana P01135809.
Ini adalah keempat kalinya mantan presiden tersebut mengunjungi Georgia setelah serangkaian tuntutan pidana terhadapnya. Dia tinggal di Atlanta selama lebih dari satu setengah jam dan segera dibebaskan dengan jaminan setelah menyerah.
Sebelum menyerah, Trump setuju untuk membayar uang jaminan sebesar $200.000 dan persyaratan pembebasan lainnya. Termasuk tidak menggunakan media sosial untuk mengancam rekan terdakwa atau saksi dalam kasus tersebut.
“Saya tidak melakukan kesalahan apa pun,” tutur Trump kepada wartawan sebelum menaiki pesawat.
“Kami mempunyai hak untuk menentang pemilu yang kami yakini tidak jujur,” sambungnya.
Awal bulan ini, Trump ditangkap di Washington DC dan didakwa bersama Smith sebagai bagian dari penyelidikan upaya mantan presiden berusia 77 tahun itu untuk membatalkan pemilu tahun 2020 silam di Georgia. (red/intra62)
Baca Artikel Lainya:
