Jakarta, Intra62.com – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) meminta semua pihak untuk hentikan kekerasan yang terjadi akibat konflik bersenjata di Papua, yang telah menyebabkan 100 ribu orang mengungsi ke tempat yang dianggap aman.
Ketua Umum PGU Pdt Jacklevyn F Manuputty menyatakan di Jakarta, Rabu, bahwa jumlah pengungsi akibat konflik bersenjata telah melampaui 100.000 orang, menurut data dari Dewan Gereja Papua.
Jacklevyn menekankan bahwa konflik yang berlangsung lama tersebut telah menyebabkan banyak korban dari masyarakat sipil Papua dan aparat keamanan, serta menyebabkan banyak pengungsian.
Banyak di antara pengungsi berada dalam kondisi kemanusiaan yang kritis. Mereka tersebar di wilayah terpencil yang sulit dijangkau dan tidak memiliki akses ke makanan, perawatan medis, dan pendampingan pastoral.
Dia menyatakan bahwa upaya intervensi kemanusiaan tidak dapat dilaksanakan secara optimal dan berkelanjutan tanpa adanya jaminan keamanan.
PGI menyadari bahwa penyelesaian masalah Papua adalah proses yang sulit dan membutuhkan waktu, pembicaraan yang jujur, dan kolaborasi semua pihak.
Namun demikian, perlindungan nilai-nilai kemanusiaan dan keselamatan warga sipil harus menjadi prioritas utama yang tidak dapat ditunda di tengah situasi konflik yang terus berlanjut.
Jacklevyn menyatakan bahwa PGI berkomitmen untuk membangun koridor kemanusiaan dari Natal hingga akhir tahun 2025 untuk memastikan akses yang aman dan bebas hambatan ke layanan kemanusiaan di daerah yang terdampak konflik.
PGI juga mendorong pemerintah dan semua pihak hentikan kekerasan yang terlibat untuk memastikan bahwa bantuan kemanusiaan, termasuk layanan kesehatan, makanan, dan pendampingan psikososial dan pastoral, tersedia untuk semua pengungsi secara adil.
Melalui pembentukan koridor kemanusiaan, PGI berharap para pengungsi di Papua dapat merayakan Natal dalam lingkungan yang lebih aman dan manusiawi, serta merasakan damai sejahtera yang sebenarnya.
Baca Juga : Danguskamla III: Tiga Karakter Dimiliki Oleh Prajurit TNI AL Yang Bertugas Di Papua.
Baca Juga : Presiden Trump Menyebut Tarif Dagang Sebagai Cara Untuk Mengakhiri Konflik Global.
(Red).
