Jakarta, Intr62.com – Penyakit katup jantung sering berkembang secara bertahap, sehingga banyak penderita tidak menyadari bahwa fungsi jantung mereka mulai menurun sampai gejala menjadi lebih parah. Oleh karena itu, penting untuk mendeteksi penyakit ini segera melalui pemeriksaan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Dr. Vera Citra Setiawan Hoei, seorang Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular di Bethsaida Hospital Gading Serpong, mengatakan penyakit katup jantung terjadi ketika katup menyempit (stenosis) atau tidak dapat menutup sempurna (regurgitasi), yang menyebabkan aliran darah terganggu dan mengharuskan jantung bekerja lebih keras untuk memprosesnya.
Penyakit katup jantung terjadi ketika katup jantung menyempit atau tidak menutup sepenuhnya, menyebabkan aliran darah terganggu dan jantung harus bekerja lebih keras untuk memprosesnya. Dalam jangka panjang, jantung dapat membesar, mengalami gangguan irama, dan bahkan kehilangan kemampuan untuk memompa. Dalam keterangannya pada hari Kamis, dr. Vera mengatakan bahwa pemeriksaan sangat penting untuk mengevaluasi kerusakan dan memberikan perawatan yang tepat untuk pasien karena gejalanya muncul secara bertahap.
Ia menjelaskan bahwa empat katup jantung, mitral, aorta, trikuspid, dan pulmonal, bertanggung jawab untuk menjaga aliran darah mengalir ke arah yang benar. Kerusakan katup ini dapat menyebabkan ruang jantung yang lebih besar, masalah dengan irama jantung, bekuan darah, dan penurunan kapasitas jantung untuk memompa darah.
Berbagai alasan dapat menyebabkan penyakit katup jantung, seperti demam rematik setelah infeksi tenggorokan, pengapuran dan penuaan katup, infeksi katup jantung (endokarditis), kelainan bawaan, hipertensi, serangan jantung, dan gagal jantung.
Gangguan tersebut dapat dialami oleh semua kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, terutama mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung atau faktor risiko terkait lainnya. Karena beban kerja jantung yang meningkat, kelainan katup pada ibu hamil juga dapat mulai menimbulkan keluhan.
Gejala yang harus diperhatikan termasuk sesak napas saat bergerak atau berbaring, kelelahan, jantung berdebar atau berdetak tidak teratur, nyeri dada, pusing hingga pingsan, dan pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau perut.
Vera mengatakan bahwa intensitas gejala tidak selalu menunjukkan tingkat kerusakan katup karena sebagian pasien dengan gangguan berat dapat mengalami keluhan yang relatif ringan.
Elektrokardiografi (EKG), rontgen dada, tes latihan jantung, CT scan, MRI jantung, atau kateterisasi jantung dapat digunakan sebagai pemeriksaan tambahan untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan utama ini adalah ekokardiografi atau USG jantung yang menilai bentuk, fungsi, dan penyempitan atau kebocoran katup jantung, serta kekuatan pompa jantung.
Selain itu, tidak semua pasien perlu dioperasi. Mereka yang mengalami gangguan ringan dapat menjalani pemantauan berkala bersamaan dengan pemberian obat untuk mengurangi cairan, mengontrol tekanan darah dan irama jantung, dan mencegah bekuan darah sesuai indikasi.
“Penanganan ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan katup, gejala, fungsi pompa jantung, dan kondisi pasien. Pada kasus berat, tindakan dapat berupa pelebaran katup dengan balon, perbaikan atau penggantian katup, bedah minimal invasif, dan TAVI untuk pasien tertentu,” kata Vera.
Dr. Margareth Aryani Santoso, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, menyatakan bahwa penanganan penyakit katup jantung membutuhkan diagnosis yang tepat, kolaborasi tim multidisipliner, dan fasilitas yang memadai dari tahap diagnosis hingga rehabilitasi.
Dia percaya bahwa layanan jantung terpadu dapat membantu pasien tidak hanya mengatasi kelainan katup, tetapi juga menjaga fungsi jantung tetap baik dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Baca Juga : BMKG Melakukan Perubahan Cuaca Untuk Menjaga Ketersediaan Air Menghadapi El Nino
( Red )
