Jakarta, Intra62.com – Menurut penelitian studi yang dilakukan oleh organisasi Transport & Environment (T&E), kendaraan hibrida Plug-in Hybrid Vehicle (PHEV), yang dianggap sebagai jembatan ideal menuju penggunaan kendaraan elektrifikasi, menghasilkan tingkat CO2 yang lebih tinggi daripada angka hasil pengujian resmi.
Menurut siaran CarsCoops pada Senin, hasil uji yang dilakukan oleh organisasi terhadap 80 ribu mobil menunjukkan bahwa emisi CO2 yang dihasilkan oleh PHEV yang digunakan setiap hari di Eropa hampir lima kali lebih tinggi dari hasil uji resmi.
Pada tahun 2021, T&E menemukan bahwa emisi CO2 nyata mobil PHEV adalah 134 gram per km, sekitar 3,5 kali lebih tinggi dari nilai resmi 38 gram per km.
Perbedaan itu semakin terlihat dalam penelitian baru-baru ini. Meskipun hasil pengujian menunjukkan emisi karbon PHEV jauh lebih tinggi, yaitu 139 gram per km, produsen mengklaim angka rata-rata 28 gram per km.
Konsumen yang membeli PHEV karena janji biaya operasional dan emisi karbon yang lebih rendah kemungkinan besar akan membayar lebih banyak tagihan bahan bakar dan menghasilkan lebih banyak karbon.
Hasil menurut penelitian sebelumnya telah memberi tahu para legislator tentang keadaan ini. Mereka sekarang berusaha untuk menetapkan aturan yang lebih ketat untuk mengurangi “faktor utilitas”, yaitu waktu yang diperkirakan dihabiskan PHEV dalam mode elektrik untuk menghitung emisi C02.
Berdasarkan standar saat ini, diproyeksikan bahwa PHEV dengan daya jangkau 60 km dapat melaju dalam mode listrik dengan waktu tempuh lebih dari 80 persen. Namun, angka ini diproyeksikan turun menjadi 54% pada tahun 2025–2026 dan 34% pada tahun 2027–2028.
Menurut T&E, bahkan setelah implementasi kerangka kerja tahun 27/28, akan tetap ada perbedaan 18% antara keluaran CO2 yang diklaim dan yang dicapai.
Baca Juga :Pramono Mengatakan Tentang Kenaikan Tarif Transjakarta.
(Red).
