Yogyakarta , Intra62.com. Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunung Kidul menghadapi banyak ancaman selain proyek Beach & Club. Sebagai bagian dari geopark dunia yang ditetapkan oleh UNESCO, banyak proyek yang sedang dan sudah dimulai, kata Sekjend AWDI Balham Wadja SH
Dia menyatakan bahwa karst berfungsi sebagai tempat penyerap dan penyimpan air. Seperti yang ditunjukkan oleh banyak aliran sungai bawah tanah di balik gundukan perbukitan. Bahkan, sungai bawah tanah karst Pegunungan Sewu ini menyediakan lebih dari 60% air baku PDAM Gunung Kidul.
Sebab Bendungan Bribin berada di bawah tanah yang khusus dibangun untuk membendung aliran sungai bawah tanah Gunung Sewu . Balham mengatakan bahwa keberadaan bendungan ini adalah bukti tambahan betapa pentingnya ekosistem karst Gunung Kidul.
Bendungan ini memiliki kapasitas 800 liter per detik, memungkinkan air untuk memenuhi kebutuhan sekitar 97.000 orang yang tinggal di tiga belas desa yang terletak di lima kecamatan Gunung Kidul. “Bisa dibayangkan dampaknya jika ini kemudian dirusak.”
Baca juga : Raffi Ahmad Memutuskan untuk Meninggalkan Proyek Beach Club di Karst Gunungkidul , Benarkah ?
Sebab Bendungan Bribin berada di bawah tanah yang khusus dibangun untuk membendung aliran sungai bawah tanah di Gunung Sewu . Bahwa keberadaan bendungan ini adalah bukti tambahan betapa pentingnya ekosistem karst Gunung Kidul.
Bendungan ini memiliki kapasitas 800 liter per detik, memungkinkan sekitar 97.000 orang yang tinggal di tiga belas desa di lima kecamatan Gunung Kidul untuk mendapatkan air. “Bisa dibayangkan dampaknya jika ini dirusak kemudian.
Jadi Ancaman Serius
Salah satu ancaman terhadap pelestarian dan perlindungan KBAK Gunung Kidul adalah pembangunan fasilitas wisata di pantai Gunung Kidul. Apalagi, tren pembangunan properti dan fasilitas wisata telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Gunung Kidul pada tahun 2014, ada 103 hotel di Gunung Kidul. naik menjadi 188 pada tahun 2022, naik 85 dalam delapan tahun.
Lokasi proyek Bekizart Beach Club & Resort menerima peningkatan terbanyak di Kecamatan Tanjungsari. Hotel di daerah itu berjumlah 22 unit pada 2014. Namun, pada 2022, jumlah ini meningkat dua kali lipat menjadi 57 unit.
Dia menyatakan bahwa, di antara berbagai kesulitan itu, ancaman terbesar datang dari Pemerintah Gunung Kidul mengenai usulan untuk mengurangi luasan KBAK separuh lebih.
“Ini menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten masih kurang memahami pentingnya menjaga kawasan karst. Ini harus kita kawal.”
Ambisi mereka untuk meningkatkan investasi adalah dasar dari usulan pengurangan luasan KBAK. Sebagai wilayah lindung, kemajuan pariwisata di pesisir selatan terhambat. Dengan kata lain, status KBAK di beberapa daerah dianggap memperlambat investasi di Gunung Kidul.
Meskipun Balham tidak menolak investasi, dia ingin investasi yang tidak merusak atau merugikan.
Pembangunan Beach & Resort telah menimbulkan banyak kontroversi, seperti kemungkinan mengubah bentang dan mengurangi peran karst dalam menyimpan air.
Dia menyatakan bahwa pertumbuhan pariwisata yang besar pada akhirnya menyebabkan pergeseran stastus kepemilikan lahan. Sekarang milik pemodal besar, bukan petani.
“Pariwisata berbasis masyarakat seharusnya didorong jika tujuannya adalah kesejahteraan.”
Dia menyatakan bahwa baik pemerintah maupun investor sering melihat karst sebagai wilayah kering dan gersang secara tidak adil. Tidak ada yang pernah mempertimbangkan dampak lingkungan di wilayah ini.
( redx )
