• Mon. Apr 20th, 2026

Analisis Nasib RI , Perang Dunia 3 di Depan Mata ?

ByAF

Jun 23, 2025
Analisis NAsib RI , Perang Dunia 3 di Depan Mata

Jakarta , Intra62.com .  Analisis Nasib RI , Perang Dunia 3 di Depan Mata ?  . Setelah Amerika Serikat terlibat langsung dalam perang Israel dan Iran, semua negara sedang mempersiapkan perang dunia ketiga, juga dikenal sebagai World War III. Bagaimana keadaan di Indonesia? .

Pasar keuangan akan terkena dampak perang dalam jangka pendek. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan berada di zona merah, seperti yang dilakukan banyak negara lain.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan kepada CNBC Indonesia pada Senin (22/6/2025), “IHSG berpotensi mengalami volatilitas dan tekanan negatif.”

Josua melihat bahwa serangan awal Israel terhadap Iran pada 13 Juni lalu mengakibatkan penurunan IHSG sebesar 0,53% menjadi 7.166. Dalam satu pekan, IHSG terkoreksi sekitar 3,6%, atau 259 poin, ke level 6.907. Sekarang AS menyerang fasilitas nuklir Iran, meningkatkan ketidakpastian di seluruh dunia.

Menurutnya, hal ini mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman, seperti emas atau mata uang perlindungan. Akibatnya, minat investor terhadap pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi lebih rendah.

Dalam keadaan seperti ini, rupiah juga diperkirakan akan mengalami tekanan. Josua memperkirakan bahwa kurs akan bergerak antara Rp16.350 dan Rp16.500.

Perang dunia 3 meningkatkan harga minyak global. Harga minyak telah naik 7% sejak konflik sebelumnya, dan diperkirakan akan mencapai US$ 100 per barel, terutama jika konflik berlanjut. Neraca perdagangan Indonesia dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan menjadi sumber risiko.

Josua menjelaskan, “Karena meningkatnya biaya impor energi, kenaikan harga minyak ini meningkatkan tekanan defisit neraca perdagangan Indonesia. Kombinasi harga minyak yang tinggi dan pelemahan rupiah menambah beban fiskal berupa peningkatan subsidi energi yang signifikan.”

Langkah Antisipatif ?

 

Berdasarkan sensitivitas fiskal, setiap kenaikan ICP sebesar USD 1 di atas asumsi APBN (USD 82 per barel) menyebabkan beban neto tambahan sekitar Rp7 triliun. Ini meningkatkan tekanan terhadap rupiah karena peningkatan risiko fiskal dan kemungkinan pelebaran defisit transaksi berjalan (CAD).

Untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah gejolak global ini, pemerintah dan otoritas moneter Indonesia perlu menyiapkan langkah antisipatif, seperti penguatan cadangan devisa melalui kebijakan DHE yang lebih efektif, intervensi pasar oleh Bank Indonesia secara hati-hati, serta mitigasi fiskal.

Baca juga : Perdagangan Saham Fiktif Crypto Ditangkap Polda Metro Jaya

(Anisa-red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/