Jakarta, Intra62.com –
Sebagai bagian dari kerja sama strategis dengan mitra Jepang Toyota untuk meningkatkan bauran energi terbarukan, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sedang menyiapkan pembangunan pabrik bioetanol di Lampung untuk mempercepat pengembangan bioetanol di tingkat nasional.
Di Jakarta pada hari Senin, Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, mengatakan bahwa mereka melakukan pertemuan dengan CEO Toyota Motor Asia Masahiko Maeda untuk membahas lebih lanjut tentang proyek tersebut.
Dia juga menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan lanjutan dari komunikasi yang intens yang dilakukan sejak tahun lalu, yang mencakup kunjungan ke Tokyo dan agenda kenegaraan Presiden Prabowo Subianto di Jepang.
Todotua menyatakan, “Tentunya ini adalah tindak lanjut yang kedua. Sebelumnya, tahun kemarin kami ada ke Tokyo untuk bertemu dengan Mr. Maeda.”
Ia menjelaskan bahwa pemerintah menargetkan pengembangan bioetanol untuk mendukung kebijakan campuran bahan bakar yang diwajibkan, seperti rencana penerapan E10. Oleh karena itu, bioetanol merupakan salah satu komponen penting dari transisi energi nasional.
“Salah satu energi bauran terbarukan yang kita rencanakan untuk develop adalah etanol ini. Pemerintah sudah menetapkan maksimal mandatori untuk kita di tahun 2028,” katanya.
Dia menjelaskan bahwa bioetanol berbeda dengan biodiesel yang berbasis minyak sawit (CPO) karena memiliki sumber bahan baku yang lebih beragam, seperti aren, sorgum, tebu, dan singkong.
Keunggulan ini dapat meningkatkan ketahanan energi dan memungkinkan pertumbuhan pertanian.
Pada awalnya, proyek akan diwujudkan dengan mendirikan pabrik bioetanol di Lampung, yang dianggap memiliki bahan baku yang melimpah. Selain itu, untuk meningkatkan pasokan feedstock, akan dilakukan pengembangan perkebunan.
Pembangunan rencana bioetanolnya itu akan dimulai di Lampung untuk pertama kalinya. Untuk alasan apa Lampung? Todotua menyatakan bahwa Lampung adalah salah satu provinsi yang memiliki pasokan ternak yang kuat untuk etanol ini.
Pertamina New Renewable Energy bekerja sama dengan mitra Jepang untuk proyek ini, dan Toyota Tsusho direncanakan menjadi partner.
Selain itu, lembaga dari Jepang yang juga mendapat dukungan dari pemerintah setempat akan menerima dukungan untuk riset dan pengembangan.
Ia menyatakan bahwa pembangunan pabrik dengan kapasitas awal sekitar 60 ribu kiloliter per tahun ditargetkan dimulai pada kuartal ketiga hingga keempat tahun 2026. Pemerintah menargetkan bahwa pabrik tersebut dapat mulai beroperasi paling lambat pada tahun 2028.
“Kalau semuanya berjalan dengan baik, seharusnya sudah bisa diproduksi sampai 2028,” katanya.
Menurut Todotua, mobil Toyota sebenarnya dapat menggunakan etanol sepenuhnya, tergantung pada kondisi pasar dan kebijakan harga ke depan.
Baca Juga : Di Istana Rabu sore, Prabowo memanggil Bahlil, Rosan, dan Menag.
Baca Juga : Purbaya Menetapkan Pembiayaan Standar SLF Setelah Menerima Keluhan Dari Bisnis Apotek.
(Red).
