Jakarta, Intra62.com –
Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif Institut ReforMiner, mengatakan bahwa masyarakat harus diinformasikan tentang ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), seperti ketersediaan 20 hari, dan kapasitas penyimpanan atau penyimpanan BBM yang dimiliki oleh Indonesia.
Dia tidak menunjukkan bahwa stok bahan bakar minyak Indonesia akan habis setelah dua puluh hari.
Dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, Komaidi menyatakan, “Setelah 20 hari, stok di gudang itu akan bisa diisi lagi. Jadi sebenarnya ini kondisi baik-baik saja.”
Dia membandingkan penyimpanan BBM di beberapa negara Asia Tenggara, seperti Vietnam yang hanya cukup untuk 15 hari, Laos yang hanya 10 hari, dan negara tetangga lainnya, seperti Australia, yang dapat menyimpan BBM selama 50 hari.
Sebaliknya, karena Jepang bukan negara penghasil BBM dalam sejarahnya, negara itu memiliki daya tampung BBM dengan volume besar. Akibatnya, Jepang memiliki ketersediaan BBM hingga 254 hari.
Komaidi menyarankan agar khalayak tidak khawatir bahwa stok BBM akan habis menjelang Idul Fitri.
Sebelum ini, ada kekacauan setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa ketersediaan BBM Indonesia aman untuk 20 hari ke depan.
Situasi ini berbeda, karena Jepang memiliki stok untuk 254 hari, tetapi pemerintahannya langsung berkolaborasi setelah perang Iran versi AS-Israel.
Komaidi menyarankan agar pemerintah dan Pertamina meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak mentah dan hasil olahan minyak di seluruh negeri.
Saat ini, kapasitas stok nasional rata-rata hanya cukup untuk 14 hingga 30 hari.
Dia mengatakan, “Setidaknya Indonesia itu mampu menyamai Australia yang sampai 50 hari.”
Komaidi berharap pemerintah mengubah rute impor dari Selat Hormuz karena ketegangan di Timur Tengah belum mereda.
Ia menyatakan bahwa banyak negara pemasok BBM tetap tidak terlibat konflik saat ini. Dengan pengalihan kapasitas impor melalui Selat Hormuz, jelas akan meningkatkan biaya operasional.
“Pemerintah tinggal menambah cost impornya saja sehingga kecukupan pasokan BBM kita tidak terpengaruh dengan situasi perang Iran vs Israel dan AS,” ujarnya.
Baca Juga : Pertamina Patra Niaga Menerima Penghargaan Anugerah BUMN 2026.
Baca Juga : Per 28 Februari 2026, APBN 2026 Mengalami Defisit 0,53% Terhadap PDB.
(Red).
