Jakarta, Intra62.com –
Kawasan mangrove Sungai Tiram di Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mulai mendapat perhatian sebagai lokasi yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya dan rekreasi berkelanjutan.
Naoto Akune, seorang pecinta mangrove asal Jepang, menawarkan ide tentang budidaya perikanan berbasis silvofishery, sebuah metode ramah lingkungan yang menggabungkan perikanan dan pelestarian mangrove untuk menghasilkan ikan yang lebih banyak.
Di Bintan, Selasa, Akune mengatakan, “Kawasan mangrove ini potensial dikembangkan menjadi model budidaya berkelanjutan yang mampu menjaga ekosistem sekaligus menghasilkan nilai ekonomi dengan sistem silvofishery.”
Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026, pecinta mangrove Akune datang ke Bintan untuk melakukan penanaman mangrove bersama Komunitas Jurnalis Kepri (KJK).
Ia menyatakan bahwa silvofishery adalah teknik konvensional yang telah terbukti berhasil di banyak negara, seperti Jepang dan beberapa wilayah Asia Tenggara. Tambak perikanan dan hutan mangrove merupakan komponen penting dari sistem ini.
Sekitar enam puluh hingga delapan puluh persen wilayah dipertahankan sebagai hutan mangrove, dan dua puluh hingga empat puluh persen lainnya digunakan sebagai kolam atau parit untuk budidaya kepiting, ikan, dan udang.
Menurut Akune, mangrove berfungsi sebagai biofilter alami yang menjaga kualitas air, memberikan pakan alami, dan melindungi wilayah dari kerusakan dan abrasi.
Menurutnya, mangrove sangat penting karena berfungsi sebagai penyaring alami, menjaga kualitas air, dan menyediakan nutrisi bagi biota. Dengan sistem ini, kebutuhan akan pakan tambahan dan obat-obatan dapat ditekan, sehingga budidaya menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Meskipun demikian, Ady Indra Pawennari, Ketua Umum KJK, berpendapat bahwa silvofishery adalah solusi ideal untuk wilayah mangrove seperti Sungai Tiram karena memiliki potensi ekonomi dan ekologis.
Konsep budidaya seperti ini sudah banyak diterapkan di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, sistem ini juga membantu menjaga kelestarian mangrove.
Menurutnya, Sungai Tiram dapat berfungsi sebagai model pengelolaan mangrove melalui ekonomi hijau di Kepulauan Riau, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari pelestarian lingkungan.
Upaya ini telah mendorong Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kepri untuk menerapkan metode baru untuk melestarikan mangrove, seperti program wisata menanam mangrove atau Planting Tourism.
Paradigma konservasi berubah dari sekadar penanaman menjadi bagian dari pariwisata ekologis yang menguntungkan.
Menurut Haris Sofyan Hendriyanto, Kepala BPDAS Kepri, program ini adalah hasil kerja sama lintas sektor antara Kementerian Kehutanan, Dinas Pariwisata, dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kepri.
Menurutnya, “Fokus utamanya adalah mengajak wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga berkontribusi langsung melalui aktivitas menanam mangrove.”
Saat ini, Harris mengatakan bahwa ada setidaknya sembilan lokasi di Bintan yang telah menjadi pusat pengembangan wisata menanam mangrove. Beberapa lokasi ini melibatkan kelompok masyarakat dan komunitas lokal, seperti Pengudang dan Gudi Farm, serta area di Pandang Tak Jemu yang dikelola komunitas Akar Bumi.
Selain itu, pengembangan wisata berbasis mangrove ini melibatkan sektor perjalanan dan perhotelan untuk mendorong paket wisata yang menggabungkan hiburan dengan konservasi lingkungan.
Haris menyatakan bahwa Kepri memiliki karakteristik yang unik, dengan potensi wisatawan dan mangrove. Kami ingin pembangunan kehutanan dapat memanfaatkan potensi daerah tersebut secara optimal.
Baca Juga : 20,8 Juta Batang Mangrove Ditanam Di M4CR Oleh Kemenhut.
Baca Juga : Acara Penanaman Mangrove Seluruh Indonesia, Jokowi dan Prabowo Ikut Nyemplung
(Red).
