• Sun. Apr 19th, 2026

Kabar Buruk Akan Mengganggu Indonesia Lagi Setelah Pabrik Tutup dan Banjir PHK

ByAF

Jul 2, 2024
Kabar Buruk Akan Mengganggu Indonesia Lagi Setelah Pabrik Tutup dan Banjir PHK .

Jakarta , Intra62.com . Kabar Buruk Akan Mengganggu Indonesia Lagi Setelah Pabrik Tutup dan Banjir PHK .   Data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia jatuh ke 50,7 pada Juni 2024, menurut data yang dirilis S&P Global hari ini, Senin (1/7/2024).
Indeks menurun dari 52,1 pada Mei 2024. Ini bahkan mencapai titik terendah sejak Mei 2023, atau tiga belas bulan sebelumnya.

Selama tiga bulan terakhir, PMI manufaktur Indonesia telah melandai. Penurunan PMI manufaktur sebesar 2,7% pada Juni 2024 adalah penurunan tertinggi sejak September 2023 (turun 2,9%).

Seperti yang dijelaskan oleh S&P Global, penurunan PMI Juni disebabkan oleh laju ekspansi yang lebih lambat baik dalam output maupun pesanan baru. Produksi naik dengan laju terendah sejak Mei 2023.  Sementara pertumbuhan pesanan baru adalah yang terlemah dalam tiga belas bulan terakhir. Selain itu, penjualan ekspor yang rendah mengurangi pesanan. Untuk keempat kalinya berturut-turut, bisnis ekspor baru menurun.

Menurut Trevor Balchin, Direktur Ekonomi S&P Global Market Intelligence, PMI jeblok ini unik.

Menurut Balchin, yang menulis di website resmi S&P Global, “Terjadi penurunan momentum yang signifikan di sektor manufaktur Indonesia pada Juni.  Di mana pertumbuhan pesanan baru hampir berhenti karena ekspor turun untuk keempat kalinya berturut-turut.”

Baca juga : Bank Mandiri Permudah Pekerja PMI Buat Rekening hanya Pakai HP

Dia menambahkan bahwa indeks PMI masih sedikit di atas level tren jangka panjangnya. Namun, prospeknya mengkhawatirkan karena Indeks Future Output tidak berubah dari level Mei dan merupakan salah satu yang terendah dalam sejarah.

Selain itu, perlambatan PMI menyebabkan perekrutan pada bulan Juni sangat rendah. Ekonomi Indonesia terancam terpuruk.

Balchin menambahkan, “Terjadi penurunan pertama dalam pekerjaan yang tertunda dalam tujuh bulan. Arah perjalanan (pemesanan) juga menunjukkan kemungkinan kontraksi baru pada awal paruh kedua tahun ini, yang akan menjadi yang pertama sejak pertengahan 2021.”

Kepercayaan dunia bisnis juga terpengaruh oleh perlambatan PMI manufaktur. Kepercayaan dunia bisnis masih di level terendah dalam empat tahun, menurut S&P.

PMI manufaktur

Karena harga bahan baku terus meningkat tajam, pelemahan rupiah menambah masalah baru.

Produsen Indonesia berhasil mengurangi pekerjaan yang tertunda pada Juni karena produksi naik lebih cepat daripada pesanan baru. Data terbaru menunjukkan penurunan stok barang jadi untuk pertama kalinya sejak Januari dan penurunan tercepat sejak Juli 2022.

Meskipun dengan kecepatan yang lebih lambat, pembelian bahan baku terus meningkat, dengan laju pertumbuhan tertinggi sejak November 2022.

Karena waktu pengiriman dari pemasok tetap tidak berubah dibandingkan dengan Mei, tekanan pada rantai pasokan biasanya tidak terasa. Rantai pasokan secara umum telah stabil sejak akhir 2023. Bisnis lain secara luas melaporkan pengiriman pesanan secara langsung, tetapi terkadang terjadi keterlambatan pengiriman dan kekurangan bahan baku.

Keyakinan Dunia Usaha Rendah

Dunia bisnis mengantisipasi peningkatan produksi hingga Juni 2025, dan ekspektasi mereka untuk dua belas bulan mendatang telah berubah.

Proyek baru, pelanggan baru, inflasi yang lebih rendah, dan kebijakan pemerintah yang mendukung adalah semua contoh ekspektasi. Tetapi tingkat optimisme, yang merupakan yang terendah dalam sejarah, tetap tidak berubah sejak Mei.

Penyerapan tenaga kerja pada bulan Juni sangat terbatas karena kurangnya keyakinan tentang produksi di masa depan, sehingga jumlahnya hampir tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya. Ini adalah tren yang telah terjadi selama hampir satu tahun.

PHK semakin umum?

Perekrutan tenaga kerja akan semakin sedikit karena PMI manufaktur semakin melambat dan terancam mengalami kontraksi. Sebagai catatan, Indonesia dilanda badai PHK tengah, terutama di industri tekstil.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN), Ristadi, menyatakan bahwa PHK yang dilakukan di pabrik-pabrik TPT tersebut pada awalnya dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi perusahaan, tetapi dia menyatakan bahwa beberapa pabrik tetap tidak dapat beroperasi meskipun PHK.

Sejak 2019, setidaknya 36 perusahaan tekstil menengah besar tutup dan 31 pabrik lainnya ditutup sebagai akibat dari peningkatan efisiensi. ( redx )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/