Jakarta , Intra62.com . Raja Semikonduktor Siap di pegang oleh Malaysia , Indonesia Raja Apa nih ? . Seiring dengan meningkatnya permintaan untuk komputasi awan, komputasi awan, dan kecerdasan buatan,
Malaysia semakin memperkuat posisinya sebagai pusat data dan semikonduktor terkemuka di Asia Tenggara.
Negara ini berhasil menarik investasi miliaran dolar dari perusahaan teknologi besar seperti Google, Nvidia, dan Microsoft dalam beberapa tahun terakhir.
Perkembangan Pusat Data Johor Bahru
Investasi ini terkonsentrasi di kota kecil Johor Bahru, yang berbatasan langsung dengan Singapura. James Murphy, Direktur Manajer APAC DC Byte Intelligence Data Center, mengatakan bahwa dalam beberapa tahun mendatang. Johor Bahru akan melampaui Singapura sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara.
Dengan pasokan data center mencapai 1,6 gigawatt, Johor Bahru adalah pasar yang paling cepat berkembang di Asia Tenggara, menurut Indeks Data Center Global 2024 dari DC Byte.
Perubahan permintaan global setelah pandemi mempercepat transformasi digital dan adopsi komputasi awan, yang mendorong pertumbuhan pesat ini.
Kebutuhan akan data center telah meningkat sebagai akibat dari peningkatan permintaan untuk layanan seperti penyimpanan data, streaming video. Dan layanan yang diakses melalui ponsel dan internet.
Selain itu, peningkatan layanan kecerdasan buatan juga memerlukan data center khusus dengan kapasitas komputasi tinggi.
Baca juga : Target Pembangunan IKN Langkah Penting Republik Indonesia
Dibandingkan dengan negara-negara seperti Singapura dan Hong Kong, Malaysia memiliki biaya energi dan lahan yang lebih murah.
Kebijakan ramah investasi seperti inisiatif Green Lane Pathway, yang diluncurkan pada tahun 2023, juga mempercepat persetujuan penggunaan listrik untuk pusat data dalam waktu kurang dari 12 bulan. Hal ini sangat menarik bagi investor yang menginginkan efisiensi dan kecepatan operasi.
Namun, banyak investasi telah beralih ke Johor Bahru karena kebijakan yang membatasi kapasitas data center Singapura sejak 2019.
Meskipun Singapura saat ini berusaha meningkatkan kapasitas data centernya untuk memenuhi standar efisiensi hijau dan energi terbarukan, keterbatasan sumber daya tetap menjadi masalah besar.
Ketika Malaysia dominan industri semikonduktor, Bagaimana RI?
Malaysia juga menunjukkan kemajuan dalam industri semikonduktor. Amerika Serikat mendukung Indonesia dalam pembuatan komponen semikonduktor, dan China juga tertarik pada komponen wafer semikonduktor, kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia.
Untuk mendukung industri ini, investasi sebesar US$ 12 miliar direncanakan di Pulau Rempang, Batam. Namun, negara tetangga menghadapi kesulitan dengan langkah ini karena mereka khawatir dengan perkembangan industri semikonduktor di Indonesia.
Airlangga menyatakan bahwa rencana Indonesia untuk maju di industri semikonduktor tidak disukai oleh beberapa negara tetangga. Kemajuan sering dihalangi oleh masalah lingkungan.
“Singapura dan Malaysia tidak senang, makanya dibuat ribut terus-menerus antara NGO-NGO untuk mencegah Indonesia masuk ke industri semikonduktor.” Akibatnya, itu adalah realitas, katanya.
Ketika Indonesia memproduksi komponen semikonduktor, investor beralih ke Malaysia karena regulasi baru. Ekspor elektronik berbasis semikonduktor Indonesia ke Malaysia saat ini mencapai 40%.
Untuk membangun industri semikonduktor yang kuat, Indonesia membutuhkan banyak insinyur mikroelektronika yang mampu mendesain dan mengembangkan sirkuit elektrik. ( redx)
