Jakarta, Intra62.com – Ridwan Kamil yang kini ditunjuk sebagai Kurator IKN atau Ibu Kota Negara Nusantara menyatakan bahwa penting bagi IKN untuk menjadi kota yang layak huni dan manusiawi. Ia menilai perkembangan IKN harus belajar dari kegagalan beberapa ibu kota baru di negara lain seperti Malaysia dan Myanmar.
Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) IKN di Jakarta, Kamis, 14 Maret 2024, Ridwan Kamil mengungkapkan dirinya telah memperingatkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi soal rumitnya pembangunan ibu kota negara baru.
Ia menyebut contohnya seperti Naypyidaw, ibu kota Myanmar yang dinilai gagal karena merupakan kota yang sepi dan desainnya hanya fokus pada pusat pemerintahan.
Menurut Ridwan Kamil, kegagalan Naypyidaw disebabkan kurangnya perhatian terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Kota ini hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan tanpa mempertimbangkan adanya keberadaan masyarakat di berbagai tingkatan.
“Hanya memindahkan kantor, maka tidak ada namanya kota formal-informal, kaya-miskin bercampur. Kota itu semua golongan harus hadir,” katanya.
Baca juga:
- Kelistrikan di IKN Seperti di Istana Kepresidenan
- Jokowi Terbang ke IKN Lakukan Groundbreaking Beberapa Infrastruktur
Ridwan Kamil juga menyebut Putrajaya, ibu kota administratif Malaysia, yang memiliki desain perkotaan yang indah namun menjadi sepi di malam hari karena sebagian besar penduduknya tinggal di Kuala Lumpur.
Ia juga menyebut Brasilia, ibu kota Brasil, yang dinilai terlalu besar sehingga kurang manusiawi dan sulit dijangkau masyarakat. Canberra, ibu kota Australia juga dikenal sebagai kota yang tenang, berbeda dengan kota ramai seperti Sydney dan Melbourne.

Menurut Ridwan Kamil, kota yang ideal haruslah ramai siang dan malam. Ia mencontohkan seperti Washington, DC, ibu kota Amerika Serikat, yang dirancang dari awal dan membutuhkan waktu 100 tahun untuk berkembang menjadi kota yang ramai dan layak huni seperti sekarang.
Ridwan Kamil menekankan pentingnya IKN sebagai kota yang layak huni dan manusiawi, agar tidak mengalami nasib yang sama dengan beberapa ibu kota lain yang gagal.
