Jakarta, Intra62.com – Chatib Basri, mantan Menteri Keuangan (2013-2014), mengungkap bantuan langsung tunai (BLT) dan bantuan pangan memiliki kekuatan tersendiri di bidang ekonomi dan politik.
Hingga Maret 2023, masih terdapat 25,9 juta penduduk miskin di Indonesia yang sensitif terhadap ketersediaan dan harga pangan.
Baca Juga: Mantan Gubernur Jawa Barat Menyambut Kedatangan Ganjar

Pak Chatib menjelaskan pemberian BLT penting bagi pemerintah di saat harga pangan khususnya beras sedang melonjak.
“Itu (BLT) punya implikasi ekonomi dan politik. Ini memberikan justify ekonomi karena harus memberikan BLT saat harga beras naik,” katanya, Kamis (16/11/2023) dikutip dari YouTube Total Politik.
Tantangan yang ada adalah bahwa negara-negara dengan populasi masyarakat miskin yang besar mempunyai peran yang sangat penting dalam permasalahan gizi. Oleh karena itu, negara perlu memberikan dukungan untuk menjaga daya beli masyarakat.
Kenyataanya, menurut Chatib, meski kerap menuai kritik dari berbagai partai politik, kebijakan tersebut memberikan dampak positif, khususnya di tataran politik.
“Kalau masyarakat ambil BLT, mereka konkret secara politik, mereka dapat uang, mereka mendapat dukungan. Kalau berjanji kepada seseorang, itu abstrak,” begitulah jelas Dede yang akrab sering disapa Chatib Basri.
Dengan demikian, pedoman yang diberikan pemerintah akan memberikan gambaran positif terhadap pemerintahan saat ini atau petahana.
“Ini akan berdampak positif pada wajah petahana (incumbent). Beras penting bagi masyarakat, sehingga akan sangat membantu dalam proses ini,” sambungnya.
BLT sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Chatib yakin, meski masih ada 25,9 juta orang yang tergolong miskin, masih banyak lagi yang berada di garis kemiskinan, atau rentan terhadap kemiskinan.
Chatib mencontohkan, misalnya jika harga beras naik Rp 200 per kilogram (kg), maka masyarakat yang berada di garis kemiskinan akan terjerumus ke dalam kemiskinan.
Hingga saat ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus menyalurkan bantuan pangan berupa beras, dalam rangka stabilitas harga dan antisipasi dampak El Nino yang masih berlangsung.
Dampak El Nino di Indonesia
El Nino telah menyebabkan banyak kegagalan panen di beberapa daerah. Kekeringan membuat pola tanam yang biasanya menghasilkan panen di bulan Desember menjadi tidak menentu. Hal ini pada akhirnya akan berdampak pada kenaikan harga beras.
Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan juga menyiapkan anggaran tambahan untuk alokasi bansos sebesar Rp 2,67 triliun yang diperpanjang hingga Desember 2023.
Beras tersebut selanjutnya akan disalurkan kepada 21,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM) yang akan menerima 10 kg beras setiap bulannya. Sri Mulyani menyebutkan, total anggaran bantuan beras tahun ini sebesar Rp 18,6 triliun. (red/intra62)
