Jakarta, Intra62.com – Sejarah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. atau hari lahir Nabi SAW. Ia diyakini sudah dikenal masyarakat Muslim Arab, setidaknya sejak tahun kedua Hijriyah. Namun ada juga yang berpendapat bahwa perayaan Maulid sudah ada sejak zaman Nabi SAW.
Ada berbagai versi mengenai awal mula perayaan Maulid Nabi. Sebagian kalangan meyakini peringatan ini pertama kali dikeluarkan saat Dinasti Fatimiyah berkuasa. Namun ada juga yang berpendapat bahwa hal itu dimulai dari zaman Salahudin Al-Ayyubi. Ahmad Tsauri mengutarakannya dalam buku “Sejarah Lahirnya Nabi” (2015).
Baca Juga: Sejarah Puasa Bulan Muharam (Puasa Asyura dan Tasu’a)
Menurutnya, perayaan Maulid Nabi SAW. Hal inilah yang dilakukan umat Islam sejak tahun kedua Hijriyah. Postingan tersebut Merujuk pada kitab “Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa” yang ditulis oleh Nuruddin Ali.
Disebutkan, Khaizuran atau Jurasyiyah binti ‘Atha (170 H/786 M), istri Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas sekaligus ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid tiba di Madinah.
Khaizuran memerintahkan masyarakat Madinah untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. di Masjid Nabawi. Dari Madinah, Khaizuran kemudian berangkat ke Mekah dan juga memerintahkan masyarakat Mekah untuk merayakan kelahiran Nabi. di rumah-rumah.
Berkat pengaruhnya yang sangat besar, Khaizuran mampu menggerakkan komunitas Muslim Arab untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Hal ini dilakukan agar keteladanan, ajaran dan kepemimpinan Nabi SAW terlihat. dapat terus menginspirasi umat Islam.
Kebanyakan ulama percaya bahwa Nabi Muhammad lahir pada hari ke 12 Rabiul Awwal tahun gajah (570 M). Oleh karena itu, setiap hari tersebut diperingati dengan hari lahir Nabi SAW.
Sejarah Peringatan Maulid Nabi di Indonesia
Maulid Nabi SAW. Beliau juga dikenang oleh sebagian umat Islam di seluruh dunia, khususnya di Indonesia.
Merayakan kelahiran Nabi. dilakukan dengan berbagai cara dan ekspresi. Dalam masyarakat Jawa, Maulid Nabi dirayakan dengan pembacaan manakib Nabi SAW. dalam beberapa kitab seperti Barzanji, Simthud Durar, Diba’, Syaroful Anam, Burdah dan lain-lain.
Setelah itu masyarakat sering menyantap makanan yang disiapkan oleh masyarakat secara bersama-sama.
Umat Islam tidak hanya bergembira merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, namun juga bersyukur atas keteladanan, gaya hidup, dan bimbingan yang diberikan. Di banyak tempat, seperti di keraton-keraton Jawa, perayaan kelahiran Nabi sering disebut Grebeg Mulud.
Di Sulawesi Selatan, Maulid Nabi SAW diperingati dengan sebutan Maudu Lompoa atau Maulid Akbar. Perayaan ini bahkan lebih ramai dibandingkan Idul Fitri.
Dalam perayaan tersebut, warga mengarak replika perahu Pinisi yang dihias dengan berbagai sarung dan dipajang di tepi sungai. Daerah tertentu merayakan Maulid Nabi di sana. Seperti Desa Cikoang, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Usai dipajang, replika perahu tersebut dibawa kemana-mana oleh masyarakat desa. Sepanjang acara, gendang atau musik khas masyarakat setempat Gandra Bulo terus terdengar.
Maudu Lompoa mewakili kisah masuknya Islam di wilayah selatan pulau Sulawesi yang dibawa oleh para pedagang Arab.
Meski masih terjadi di kalangan ulama mengenai perayaan Maulid Nabi, namun bagi sebagian besar umat Islam, perayaan Maulid Nabi memiliki makna spiritual dan pendidikan. Dorongan ini merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk belajar lebih banyak tentang kehidupan dan ajaran Nabi Muhammad SAW. (red/intra62)
