• Sun. Apr 19th, 2026

Sejarah Puasa Bulan Muharam (Puasa Asyura dan Tasu’a)

ByIM

Jul 27, 2023
Sejarah Puasa Bulan Muharam

Jakarta, Intra62.com – Sejarah puasa bulan Muharam (puasa Asyura dan Tasu’a) mempunyai keutamaan yang sangat besar bagi umat muslim. Bulan Muharam merupakan bulan mulia dan disunahkan melakukan amalan-amalan termasuk puasa sunah, Rasulullah SAW bersabda:

“Saum (Puasa) yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah (Muharam). Kemudian salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim no. 1163).

Baca Juga: Museum Sejarah di Parungkuda, Sukabumi

Mengenal sejarah puasa Asyura dan Tasu’a tidak terlepas dari sejarah Nabi Muhammad SAW. Puasa Asyura merupakan puasa yang dijalankan pada tanggal 10 Muharram, sementara untuk puasa Tasua dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram.

Tentang sejarah puasa Asyura dan Tasu’a sebagai berikut.

Sejarah Puasa Bulan Muharam, Asyura dan Tasu’a

Asal mula atau sejarah umat Islam disunahkan melakukan puasa Asyura dan Tasu’a tidak dapat dilepaskan dari sejarah Nabi Muhammad SAW. KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menceritakan sejarah puasa Asyura berawal dari Rasulullah SAW sedang berjalan-jalan dan melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa pada tanggal 10 Muharram.

“Lalu Nabi bertanya kepada orang-orang Yahudi, kenapa kamu berpuasa? orang-orang Yahudi menjawab: Ini hari penting, hari ini Nabi Musa AS diselamatkan, hari ini Nabi Musa AS mengalahkan Firaun,” katanya.

Nabi Muhammad SAW kemudian mengatakan kepada kaum Yahudi bahwa ia lebih berhak terhadap Nabi Musa daripada Bani Israil. Rasulullah SAW kepada kaum Yahudi menerangkan dirinya yang melanjutkan tugas kenabian dari nabi-nabi sebelumnya. Yang pada akhirnya menjadi sejarah puasa Asyura, di mana Rasulullah memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa pada tanggal 10 Muharam.

Hadis Tentang Puasa Asyura dan Tasu’a

“Dari Ibnu Abbas ra, beliau berkata: ‘Nabi Muhammad saw hadir di kota Madinah, kemudian beliau menjumpai orang Yahudi berpuasa Asyura. Rasulullah bertanya tentang puasanya tersebut, lalu menjawab: ‘Hari ini adalah hari dimana Allah swt memberikan kemenangan kepada Nabi Musa as dan Bani Israil atas Fir’aun. Lantas kami berpuasa untuk menghormati Nabi Musa’. Lalu Rasulullah saw bersabda: ‘Kami (umat Islam) lebih utama berpuasa untuk Nabi Musa dibanding dengan kalian’. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk berpuasa di hari Asyura.” (HR Muslim).

Gus Baha menjelaskan, dalam kitab Fathul Muin sehubungan kaum Yahudi berpuasa tanggal 10 Muharam, untuk membedakannya maka puasanya mulai tanggal 9 Muharam. Dari kitab tersebut diterangkan bahwa seandainya tidak dimulai dari tanggal 9, maka ditambah puasanya pada tanggal 11 Muharam.

Tetapi menurut pandangan Imam Syafi’i, sebagaimana dikutip Gus Baha bahwa boleh berpuasa hanya tanggal 10 Muharam saja. Walaupun Rasulullah SAW belum sempat melaksanakan karena Nabi telah terlebih dahulu wafat, hukumnya sunah karena puasa Tasua tersebut adalah keinginan Nabi Muhammad SAW.

Sejarah puasa Tasu’a ini berdasarkan pada hadis berikut:

“Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW berpuasa Asyura (10 Muharram). Sahabat-sahabat memberi tahu, ‘Ya Rasul, itu adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Kalau ada kesempatan pada tahun depan, insya Allah kita akan berpuasa Tasua (9 Muharram).’ Ibnu Abbas berkata, ‘Belum datang tahun depan, namun Rasulullah sudah wafat terlebih dahulu,’ (HR Muslim). (red/intra62)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/