Jakarta, Intra62.com – Anggaran yang dialokasikan untuk pembelian biskuit guna mengatasi gizi buruk (stunting) di setiap daerah, dipastikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah dihentikan dan dialihkan penggunaannya.
“Tidak ada anggaran untuk membeli susu dan kue. Untuk semua posyandu, anggarannya adalah anggaran untuk membeli produk makanan berprotein hewani,” kata Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono kepada FMB9: Langkah penting untuk mengurangi stunting dilakukan secara daring di Jakarta pada Senin (21/8/2023).
Baca juga: Mendagri Penanganan Stunting Butuh Dukungan Digitalisasi Data
Melihat temuan bahwa pasokan makanan bergizi di daerah sering melanggar peraturan, seperti menawarkan produk susu kemasan dan kue kering tinggi lemak dan gula, kata Dante, pihaknya telah berulang kali melakukan penjajakan dan audiensi dengan para ahli.
Ahli-ahli yang hadir berasal dari perguruan tinggi, organisasi profesi atau asosiasi yang menangani kasus terkait. Tujuannya adalah untuk mengelompokkan isi modul penanganan gizi buruk stunting di daerah yang baik menjadi, tepat dan akurat sehingga dapat dimaksimalkan.
Berdasarkan diskusi tersebut, Dante mengatakan, keputusan penghentian pendanaan dilakukan setelah para ahli sepakat bahwa pemberian makanan pendamping ASI (PMT). Kepada anak untuk mencegah stunting tidak efektif, buah-buahan jika diberikan hanya dalam bentuk biskuit atau susu.
“Banyak ahli mengatakan bahwa suplemen PMT yang paling efektif untuk mencegah stunting adalah dalam bentuk protein hewani. Ini akan membawa hasil terbaik dan paling efektif. Makanya, anggaran untuk beli susu dan biskuit sudah tak ada lagi,” terangnya.
Dante meminta semua pihak untuk tidak salah menyikapi kebijakan ini. Memang Kementerian Kesehatan menggantinya dengan menyediakan dana untuk membeli atau menyiapkan makanan kaya protein hewani seperti telur, ikan, dan ayam yang disalurkan melalui posyandu ke seluruh tanah air.
“Ini kita lakukan bersama di Posyandu, sehingga tidak ada lagi modal yang harus dialokasikan untuk pembagian biskuit,” katanya. Tetapi pasokan protein langsung juga akan membantu menghidupkan kembali perekonomian desa.” ucapnya.
Baca juga: Sekjend AWDI senada dengan KASAD tentang Media menjadi Modal ” Problem solving ” Permasalahan Bangsa
Dante percaya bahwa selain lebih bermanfaat untuk tumbuh kembang anak. Makanan yang mengandung protein hewani juga bisa dikembangkan oleh penduduk setempat. Hal ini dapat melajukan roda perekonomian suatu daerah karena permintaan akan meningkat.
“Pikirkan jika telur dibeli di desa ini, maka akan banyak orang yang beternak dan petelur di desa tersebut. Sehingga berdampak baik bagi pertumbuhan ekonomi, termasuk ikan dan ayam,” ujarnya.
Dikesempatan itu, Dante meminta semua pihak memahami bahwa dalam beberapa kasus, anak yang mengalami keterlambatan perkembangan bisa disembuhkan. Tapi, hal ini harus melalui pemeriksaan dengan dokter spesialis anak dan dokter spesialis lainnya untuk mendapatkan perawatan rumah sakit yang tepat.
“Benar ada persentase yang bisa normal kembali, tapi ada beberapa anak yang sudah stunting parah. Tidak bisa disembuhkan dan sangat miris tidak bisa kembali normal,” jelasnya.
Kemudian, Balham Wadja SH, selaku Sekretaris jenderal Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI) berpendapat “Bahwa sejak 2015 saya ke TTS/NTT sudah diingatkan. Namun, pemerintah tetap saja menjalankan program tersebut,” tegasnya. (red/intra62)
