Jakarta, Intra62.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto diberitahu oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bahwa mulai tahun 2026, Indonesia tak lagi mengimpor.
Menurut Bahlil, ini akan menjadi kenyataan setelah proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur, mulai beroperasi.
Bahlil mengatakan proyek RDMP Balikpapan akan dimulai pada 10 November 2025 dan akan memainkan peran penting dalam meningkatkan kemandirian energi negara.
Dia mengatakan bahwa dengan beroperasinya kilang tersebut, produksi energi surya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan nasional tak lagi mengimpor.
Kebijakan biodiesel B50 pemerintah terus mendorong pengembangan program bahan bakar nabati selain RDMP.
Baca Juga : Sekjen Golkar: AMPG-AMPI Percaya Penghinaan Bahlil Telah Melampaui Batas.
Diperkirakan bahwa kombinasi implementasi B50 dan produksi RDMP dapat menyebabkan kelebihan pasokan solar, atau oversupply. Ini memungkinkan Indonesia untuk mengekspor bahan bakar ini di masa mendatang.
Sebelumnya, Bahlil mengatakan bahwa program penggunaan bahan bakar solar yang terdiri dari campuran 50% bahan nabati atau Biodiesel B50 akan dimulai pada semester kedua tahun 2026.
Dalam rapat terbatas, Presiden Prabowo Subianto ingin mempercepat pelaksanaan B40 menjadi B50. Saat ini, uji coba B50 masih dilakukan.
Saat memberikan keterangan pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (24/10), Bahlil menyatakan, “B50 ini sekarang lagi diujicobakan. Insyaallah di semester kedua akan kita implementasikan, dan kalau ini sudah kita lakukan maka impor BBM khususnya solar tidak lagi kita lakukan.”
Menurut Bahlil, Indonesia saat ini masih membutuhkan impor solar sebesar 4,9-5 juta ton per tahun. Namun, jika B50 diterapkan, ia percaya impor bahan bakar, terutama solar, dapat ditekan karena produksi bahan bakar sudah cukup dengan bioetanol.
Baca Juga : Menteri Bahlil Meninjau Teknologi DME China Dan Korea-Eropa.
( Red ).
