Jakarta, Intra62.com –
Menurut Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), kenaikan harga minyak di seluruh dunia menyebabkan peningkatan pendapatan industri hulu migas.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyatakan pada Jumat di Kantor Kementerian ESDM, bahwa pendapatan dan harga akan meningkat dari hulu.
Di tengah kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah, harga minyak melonjak tajam. Harga minyak Brent naik 4,93 persen ke 85,41 dolar AS per barel, dan harga minyak WTI Amerika Serikat naik 8,51 persen ke 81,01 dolar AS per barel.
Pada Januari 2026, harga minyak mentah Brent (ICE) rata-rata sebesar 64 dolar per barel, dan harga minyak mentah WTI AS sebesar 57,87 dolar per barel.
“Kalau dari hilir, saya kurang tahu. Tetapi di hulu (dampaknya) bagus,” kata Djoksis, yang sering disebut sebagai “Djoksis.”
Media Iran menyatakan bahwa serangan AS-Israel telah “secara efektif” menutup Selat Hormuz.
Dalam hal Selat Hormuz, volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab, serta sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, diawasi.
Koridor tersebut melintasi sekitar 20% konsumsi minyak harian global, atau 20 juta barel.
PT Elnusa Tbk (Elnusa) berpendapat bahwa jika harga minyak global terus meningkat dalam jangka waktu yang panjang, maka akan ada peluang untuk eksploitasi dan eksplorasi lebih lanjut di lapangan minyak terpencil atau marginal.
Pelaku industri minyak dan gas bumi (migas) di tingkat hulu menganggap lapangan minyak marginal tidak layak untuk digarap ketika harga minyak mentah berada di bawah 60 dolar AS per barel, kata Direktur Keuangan PT Elnusa Nelwin Aldriansyah.
Ketidaklayakan ini disebabkan oleh nilai jual yang rendah, yang tidak menghasilkan keuntungan ekonomi bagi perusahaan hulu migas.
Baca Juga : Menyelidiki Mantan Sekper Perusahaan Migas Pengadaan LNG.
Baca Juga :Rupiah melemah saat pelaku pasar menunggu data tenaga kerja AS.
(Red).
