• Tue. Apr 21st, 2026

Sejarah Raja Keraton Yogyakarta Yang Tidak Pernah Dipimpin Ratu.

ByBunga Lestari

Oct 31, 2025

Jakarta, Intra62.com – Peluang perempuan dalam regenerasi Keraton Yogyakarta dibahas oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Dia berpendapat bahwa pergeseran zaman dan prinsip demokrasi membuat regenerasi di lingkungan Keraton tidak harus dibatasi oleh jenis kelamin.

Di Forum Sambung Rasa Kebangsaan di Gedung Sasono Hinggil Dwi Abad, Keraton Yogyakarta, Minggu (26/10), Sultan menyampaikan hal itu.

Kenapa saya harus membedakan antara laki-laki dan perempuan jika Republik tidak membedakan? Mungkinkah saya tidak konsisten? Itu (tradisi patriarkis) kan leluhur saya karena zaman sudah berubah. Dia menyatakan, “Lho, karena saya bagian dari republik, saya harus tunduk pada undang-undang republik.”

Pernyataan ini memicu spekulasi tentang kemungkinan seorang perempuan akan memimpin Keraton Yogyakarta. Karena sejak berdirinya pada tahun 1755, belum ada satu pun raja yang memerintah yang berasal dari garis keturunan perempuan.

Ini adalah daftar raja-raja Keraton Yogyakarta.

Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755–1792) Dikenal sebagai Pangeran Mangkubumi, Sri Sultan Hamengku Buwono I lahir pada 5 Agustus 1717. Ia telah dikenal karena taat beribadah dan keprajuritan sejak kecil. Mangkubumi memimpin perlawanan besar bersama Pangeran Sambernyawa saat Mataram diguncang oleh konflik dan dominasi VOC.

Sri Sultan Hamengku Buwono II (1792-1828) Nama asli Sri Sultan Hamengku Buwono II adalah Raden Mas Sundoro. Dia dikenal sebagai raja yang keras dan menentang kolonialisme.Orang ini, yang lahir pada 7 Maret 1750, mengambil alih posisi ayahnya pada 1792. Hamengku Buwono II memperkuat pertahanan Keraton dan menentang campur tangan Belanda dalam politik Yogyakarta.

Sri Sultan Hamengku Buwono III (1810-1814) lahir 20 Februari 1769, dengan nama Raden Mas Surojo. Ia adalah putra Sultan Hamengku Buwono II, yang terkenal pendiam dan suka mengalah.

Sri Sultan Hamengku Buwono IV (1814-1822) naik tahta pada usia 10 tahun menggantikan ayahnya, Sultan Hamengku Buwono III. Lahir pada 3 April 1804, dia dikenal sebagai Gusti Raden Mas (GRM) Ibnu Jarot. Dengan bantuan Patih Danurejo IV, wali raja Paku Alam I dan ibunya, Ratu Ibu, menjalankan pemerintahan karena masih muda.

Sri Sultan Hamengku Buwono V (1823–1855) naik tahta saat berusia tiga tahun setelah ayahnya meninggal. Dia dibimbing oleh dewan wali yang terdiri dari Ratu Ageng (nenek Sultan), Ratu Kencono (ibu Sultan), Pangeran Mangkubumi, dan Pangeran Diponegoro ketika dia masih kecil.

Sri Sultan Hamengkubuwono VI (1855–1877) Lahir pada 10 Agustus 1821, Gusti Raden Mas Mustojo, Sri Sultan Hamengkubuwono VI mengambil alih takhta menggantikan kakaknya, Hamengkubuwono V, pada tahun 1855. Meskipun kakaknya meninggal pada tahun yang sama, permaisurinya, GKR Sekar Kedaton, melahirkan 13 hari kemudian.

Sri Sultan Hamengkubuwono VII (1877-1921) lahir pada 4 Februari 1839 dan diberi nama Gusti Raden Mas Murtejo. Dia menggantikan ayahnya, Hamengkubuwono VI, pada 13 Agustus 1877. Di bawah pemerintahannya, Yogyakarta mengalami masa transisi penting menuju era modern, di tengah pengaruh kuat Hindia Belanda.

Sri Sultan Hamengkubuwono VIII (1921-1939) dilahirkan pada 3 Maret 1880 dengan nama Gusti Raden Mas Sujadi. Setelah belajar di Belanda, dia naik takhta pada 8 Februari 1921, menggantikan ayahnya, Hamengkubuwono VII. Pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan semuanya dimodernisasi selama pemerintahannya.

Putra kesembilan Sultan HB VIII, Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1940–1988) dilahirkan pada 12 April 1912 dengan nama Gusti Raden Mas Dorojatun. Dia dititipkan pada keluarga Belanda untuk tumbuh mandiri tanpa pengasuh.

( Red ).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/