• Sat. May 23rd, 2026

Pemberontakan Di/Tii Terjadi Di Beberapa Daerah

ByIM

Aug 31, 2023
Pemberontakan Di/Tii Terjadi Di

Jakarta, Intra62.com – Pemberontakan DI/TII terjadi di beberapa daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Aceh. Kahar Muzzakar memimpin pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan, Amir Fatah memimpin pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah, Kartosuwiryo memimpin pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, dan DI/TII Aceh dipimpin oleh Daud Beureueh.

Segala upaya mereka untuk melawan akhirnya digagalkan oleh pihak berwenang. Hal ini disusul dengan upaya meredam pemberontakan DI/TII di berbagai daerah.

Baca Juga: Cerita Inspirasi Perjuangan Pangeran Diponegoro

Menumpas pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah

Penyebab terjadinya gerakan DI/TII di Jawa Tengah bermula dari perubahan situasi politik di wilayah Tegal-Brebes pasca ditandatanganinya Perjanjian Renville.

Perjanjian tersebut memuat klausul yang menyatakan bahwa seluruh pasukan Indonesia yang berada di wilayah yang diduduki Belanda harus ditarik dan dikembalikan ke NKRI.

Akibatnya pasukan Indonesia harus meninggalkan wilayahnya, termasuk Pekalongan yang berada di bawah kendali Belanda. Namun uang itu tidak masuk ke pasukan RI, Brebes, dan Tegal. Mereka tidak meninggalkan daerah tersebut.

Pejuang Brebes dan Tegal masih melakukan perlawanan dan berusaha menyusun strategi untuk meresponsnya. Mereka kemudian melakukan operasi militer Gerakan antara Gerakan Republik Indonesia (GARI) dan Gerilya Republik Indonesia (GRI).

Pimpinan pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah oleh Amir Fatah. Amir Fatah dan pasukannya menyerang TNI dan beberapa desa yaitu desa Rokeh Djati dan Pagerbarang. Untuk melemahkan kekuasaan Amir Fatah dan pasukannya, upaya menumpas pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah dilakukan dengan pembentukan Gerakan Gaur Nasional (GBN). GBN dikomandoi oleh Letkol Sarbini, Letkol Bachrum, dan Letkol Ahmad Yani.

Akhirnya pada tanggal 22 Desember 1950, pasukan DI/TII Jawa Tengah ditangkap di desa Cisayong, Tasikmalaya, bersama Amir Fatah yang kemudian dipenjarakan selama dua tahun.

Penumpasan pemberontakan DI/TII di Jawa Barat

Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dipimpin oleh Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1949. Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan Kartosuwiryo terhadap kemerdekaan Republik dari Indonesia, yang pada saat itu dibayangi oleh kehadiran Belanda.

Pada awal tahun 1948, Kartosuwiryo bertemu dengan Panglima Prajurit Sabilillah dan Raden Oni Syahroni, dimana ketiganya menentang perjanjian Renville karena dianggap gagal melindungi masyarakat Jawa Barat.

Bentuk penolakan tersebut tercermin pada berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) yang dipimpin Kartosuwiryo. Pasca NII, ia mendirikan Tentara Islam Indonesia (TII) untuk melawan TNI agar bisa memisahkan diri dari Indonesia. Inilah awal mula pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dan menyebar ke daerah lain.

Menyikapi pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, pemerintah mengeluarkan Peraturan No. 59 tahun 1958 termasuk pemberantasan DI/TII.

Upaya menumpas pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dilakukan dengan mengerahkan pasukan Kodam Siliwangi dan menerapkan taktik Pagar Betis. Taktik Pagar Betis diterapkan dengan mengerahkan ratusan ribu orang untuk mengepung tempat persembunyian DI/TII. Selain itu, Kodam Siliwangi kembali melakukan operasi yaitu Operasi Brata Yudha.

Operasi Brata Yudha bertujuan untuk mencari keberadaan Kartosuwiryo. Kartosuwiryo juga ditemukan oleh Letda Suhanda, Komandan Batalyon 328 Kompi C Kujang II/Siliwangi.

Menumpas pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan

Pada tahun 1950 terjadi pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan. Kahar Muzakkar memimpin pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan dengan kelompok gerakan bernama Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS).

Pada tanggal 20 Januari 1952, Kahar Muzakkar memutuskan bergabung dengan DI/TII. Kemudian pada tanggal 7 Agustus 1953, ia mendeklarasikan Sulawesi Selatan dan sekitarnya sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia.

Pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan yang dipimpin Kahar Muzakkar bermula dari kekesalannya karena banyak anggota KSSS yang tidak diperbolehkan bergabung dengan Angkatan Bersenjata Indonesia Bersatu (APRIS).

Kahar Muzakkar memimpin pemberontakan dalam dua fase. Tahap pertama berlangsung pada tahun 1950 hingga 1952 dan tahap kedua pada tahun 1953 hingga 1965. Pasca pemberontakan Kahar Muzakkar, pemerintah pusat melancarkan operasi militer ke Sulawesi Selatan. Akhirnya pada Februari 1965, Kahar Muzakkar tertembak. (red/intra62)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/