• Fri. Apr 17th, 2026

Cerita Inspirasi Perjuangan Pangeran Diponegoro

ByIM

Jul 14, 2023
Cerita Inspirasi Perjuangan Pangeran

Jakarta, Intra62.com – Cerita inspirasi perjuangan Pangeran Diponegoro adalah Pahlawan Nasional Republik Indonesia yang sangat populer dengan perlawanannya melawan penjajah Belanda.

Pangeran Diponegoro adalah tokoh pejuang yang berasal dari Yogyakarta dan tokoh penting dalam sejarah perang Diponegoro yang merupakan salah satu perang terbesar di pulau Jawa. Bagimana kisah sejarah dan Biografi Pangeran Diponegoro secara singkat?

Pangeran Diponegoro merupakan putra sulung Sultan Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Pangeran Diponegoro lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta. Ibunya Pangeran Diponegoro bernama R.A. Mangkarawati, yakni seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri atau selir) yang berasal dari Pacitan.

Baca Juga: Wanita Sukses Asal Surabaya Wakafkan Hotel Miliknya, Terinspirasi Dari Sang Ibunda

Pangeran Diponegoro bernama kecil Bendoro Raden Mas Ontowiryo. Menyadari derajatnya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III, untuk mengangkatnya menjadi raja.

Ia menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Diponegoro memiliki 3 orang istri, yaitu: Bendara Raden Ayu Antawirya, Raden Ayu Ratnaningsih, & Raden Ayu Ratnaningrum.

Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo dari pada di keraton.

Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang saat itu baru berusia 3 tahun.

Sementara pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro.

Riwayat Perjuangan Pangeran Diponegoro

Foto lukisan sosok Pangeran Diponegoro (Red/Intra62.com)

Kisah perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda dimulai dari Perang Diponegoro. Perang tersebut adalah perang besar dan menyeluruh berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa, Hindia Belanda (sekarang Indonesia).

Perang ini antara pasukan penjajah Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock melawan penduduk pribumi yang dipimpin seorang pangeran Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro. Dalam perang ini telah berguguran korban yang tidak sedikit.

Usai kekalahannya dalam Perang Napoleon di Eropa, pemerintah Belanda yang tengah dalam kondisi kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai pajak di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda.

Selain itu, mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan guna memaksimalkan keuntungan. Bayaran-bayaran dan penerapan monopoli tersebut sangat mencekik rakyat Indonesia yang ketika itu sedang mengalami penderitaan.

Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya, Belanda mulai berupaya menguasai kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, di antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Waktu itu Sultan Hamengku Buwono IV wafat, kemenakannya, Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun, diangkat menjadi penguasa.

Penyebab Terjadinya Perang Diponegoro

Cerita perang diponegoro dimulai pada pertengahan bulan Mei 1825. Saat itu pemerintah Belanda yang awalnya memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan, merubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. Ternyata di salah satu sektor, Belanda tepat melintasi makam dari leluhur Pangeran Diponegoro.

Sebab ini yang membuat Pangeran Diponegoro merasa tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Pangeran kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang melalui makam tersebut.

Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena dinilai telah memberontak, pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau.

Terpaksa, Pangeran bersama keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat sampai ke Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan melanjutkan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang berada lima kilometer arah barat dari Kota Bantul.

Selanjutnya, Belanda membakar habis tempat tinggal Pangeran. Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong, sebagai basisnya, sebuah goa yang berlokasi di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul.

Pangeran Diponegoro menghuni goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung, yang juga merupakan tempat bertapanya beliau. Sementara Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati Goa Putri yang berada di sebelah Timur.

Usai penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung selama 5 tahun. Aksi kepahlawanan pangeran diponegoro ditunjukan dengan berhasil membuat rakyat pribumi bersatu dalam bersemangat “Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati“, (sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati).

Sebanyak 15 pangeran bergabung. Perjuangan pangeran Diponegoro dibantu oleh Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan

Perang ini merugikan pihak Belanda, 15.000 tentara dan 20 juta gulden (uang yang berbentuk kepingan emas). Berbagai macam cara terus diusahakan Belanda agar bisa menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun digelar.

Imbalan 50.000 Gulden akan diberikan kepada yang sudah berhasil menangkap pangeran Diponegoro. Hingga akhirnya Diponegoro ditangkap pada tahun 1830.

Penangkapan Pangeran Diponegoro

Di biografi Pangeran Diponegoro diketahui bahwa pada tanggal 16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen. Yang saat ini merupakan wilayah Purworejo.

Cleerens menganjurkan agar Kanjeng Pangeran serta pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.

Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang pada 28 Maret 1830. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan memaksa Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak pangeran Diponegoro. Namun, Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti.

Pada saat itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, lalu dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada tanggal 5 April.

11 April 1830 tiba di Batavia dan ditawan di Stadhuis yang saat ini menjadi gedung Museum Fatahillah. Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch. 30 April 1830 keputusan pun diterbitkan.

Pangeran Diponegoro Wafat

Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado. Di tanggal 3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan menggunakan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.

Pada tahun 1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan. pada tanggal 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan disemayamkan di kampung Jawa Makassar. Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh puteranya yang bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo melangsungkan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen. (red/intra62)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/