Jakarta, Intra62.com . Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir tahun ini. Meskipun harga minyak dunia terus meningkat sebagai akibat dari konflik AS-Israel melawan Iran.
Karena komoditas tersebut tidak termasuk yang menerima keringanan harga dari pemerintah. Ia menegaskan bahwa ia tidak dapat memprediksi atau memberikan jaminan tentang perubahan harga BBM non-subsidi.
Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin, Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa mereka siap untuk tidak menaikkan (harga) untuk BBM bersubsidi . Tentunya sampai akhir tahun, dengan asumsi harga minyak 100 dolar AS per barel sampai akhir tahun, yang sudah dihitung rata-rata.
Ia menyatakan bahwa pihaknya telah mempersiapkan tindakan untuk mengurangi dampak . Dan menghitung ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam kasus harga minyak dunia naik menjadi 80 dolar per barel atau 100 dolar per barel.
Jadi, (BBM) yang bersubsidi sampai akhir tahun aman. Jadi, masyarakat di luar jangan ribut atau takut, kami sudah hitung (anggaran subsidinya masih cukup).”
Purbaya menyatakan bahwa pemerintah masih memiliki sumber dana tambahan selain anggaran APBN . Hal ini untuk mengantisipasi tekanan harga minyak global. Salah satu sumber dana tersebut adalah dana Sisa Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun, yang mencakup penempatan Rp200 triliun di perbankan.
Ia menyatakan bahwa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor energi . Dan sumber daya mineral adalah salah satu dari banyak pos pendapatan yang masih dimiliki pemerintah . Ini yang dapat berfungsi sebagai buffer atau bantalan bagi kebutuhan anggaran subsidi.
“Yang penting adalah dananya ada, cushion kita masih ada . Dan nanti juga Pak Menteri ESDM (Bahlil Lahadalia) menjanjikan pendapatan yang lebih dari kenaikan harga minyak dan batubara di pasar dunia,” katanya.
Subsidi 6,8 Triliun
Purbaya juga menyatakan bahwa pemerintah tengah berusaha mengurangi anggaran pada sejumlah pos pengeluaran yang tidak efektif di kementerian dan lembaga.
Mengingat kenaikan harga minyak global sebesar 1 dolar AS per barel, pemerintah harus meningkatkan subsidi sebesar Rp6,8 triliun.
Selain itu, ia menyatakan bahwa upaya efisiensi tersebut ditunjukkan untuk mempertahankan defisit pengeluaran APBN di level 2,92 persen tanpa menggunakan SAL.
Purbaya menyatakan bahwa mereka akan meminta kementerian dan lembaga untuk mengurangi pengeluaran, mengawasi dan menjaga yang lain. Dan meningkatkan pendapatan di beberapa sektor, termasuk komoditas.
Baca juga : BPH Migas: Tunggu arahan pembatasan pembelian BBM Subsidi
( Anisa- red )
