Jakarta, intra62.com –
Melalui koneksi atau transmisi listrik berbasis energi hijau atau energi baru terbarukan (EBT) di banyak pulau di luar Jawa, PT PLN (Persero) menekankan pentingnya pemerataan industri di Indonesia.
Dalam diskusi publik yang digelar secara hybrid di Jakarta, Selasa, VP Perencanaan Ketenagalistrikan PT PLN (Persero) Arif Sugiyanto mencontohkan bahwa meskipun permintaan energi di Jawa sangat tinggi, ada sedikit sumber EBT untuk mendukung kegiatan industri.
Arif mengatakan bahwa ini mungkin menjadi salah satu opsi di masa depan jika ada pemerataan industri sehingga tidak hanya terkonsentrasi di Jawa, sehingga kita juga dapat memanfaatkan sumber energi hijau yang ada di luar Jawa.
Ini sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, yang menetapkan bahwa PLN akan membangun jaringan transmisi hijau skala besar, atau Green Super Grid, untuk menghubungkan sumber energi EBT yang biasanya berada di daerah terpencil ke pusat-pusat yang sangat membutuhkan listrik, seperti kota-kota besar, kawasan industri, dan wilayah yang padat penduduk di seluruh Indonesia.
Arif menjelaskan, “Karena itu, kita tentunya perlu menyiapkan yang kita sebut Green Enabling Super Grid, di mana kita harus membawa atau mentransfer energi dari pembangkit listrik renewable yang ada di luar Jawa ke Jawa.”
Ia menunjukkan betapa banyaknya potensi EBT di Sumatera, termasuk tenaga panas bumi (geothermal) dan tenaga air. Potensi ini dapat diperluas lagi untuk manfaat kelistrikan masyarakat.
Dalam sepuluh tahun mendatang, pemerintah berharap dapat membangun 47.758 kilometer sirkuit transmisi listrik.
Pembangkit-pembangkit EBT dihubungkan ke gardu induk PLN oleh jaringan ini. Selanjutnya, daya disalurkan ke jaringan distribusi untuk sampai ke pelanggan atau end user.
Namun, Arif mengakui bahwa pembiayaan masih merupakan masalah penting karena pembangunan interkoneksi di Indonesia, yang terdiri dari banyak pulau, memerlukan banyak biaya dan teknologi.
Dia menyatakan bahwa membangun jaringan yang sangat panjang memerlukan biaya yang sangat besar, terutama dengan menggunakan kabel laut yang panjang. Akibatnya, investasi yang sangat besar diperlukan.
Namun, dia optimistis bahwa investor tetap akan tertarik pada EBT di Indonesia karena banyaknya potensi dan kekayaan.
Arif menyatakan bahwa harapan tetap pada biaya pendanaan. Oleh karena itu, persaingan dari biaya pendanaan yang semakin rendah akan berdampak pada pengembangan energi terbarukan yang semakin murah, yang tentunya akan berdampak pada penurunan tarif masyarakat.
Baca Juga : PLN EPI: Penghargaan NCSRA 2026 menunjukkan kemajuan CSR
Baca Juga : PLN: Pada Lebaran 2026, penggunaan SPKLU akan meningkat empat kali lipat.
(Red).
