Jakarta , Intra62.com . Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan bahwa 3,2 gigawatt (GW) dari 6,3 GW pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) beroperasi atau akan memasuki tahap Operasi Komersial (COD) pada tahun 2025.
Dalam acara Diseminasi RUKN dan RUPTL di Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan di Jakarta, Senin, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jisman P. Hutajulu menyatakan, “Sebagian besar batu bara ini sudah COD di 2025 ini sekitar 3,2 GW.”
Kapasitas 3,2 GW tidak berasal dari satu pembangkit. Menurut Jisman, kapasitas ini berasal dari akumulasi kapasitas dari berbagai PLTU yang akan COD pada tahun 2025.
Selain itu, karena kontrak yang berbeda dari berbagai PLTU tersebut, ia tidak dapat menentukan kapan pembangkit-pembangkit tersebut akan mulai beroperasi.
Namun, sebagian besar dari 3,1 GW lainnya sedang dalam tahap konstruksi. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 menetapkan tujuan pembangunan PLTU berkapasitas 6,3 GW tersebut.
Menurut Jiman, pembangunan berbagai PLTU tersebut merupakan lanjutan dari RUPTL sebelumnya, dengan kapasitas total mencapai 6,3 GW.
Jisman mengatakan, “PLTU batu bara ini bukan barang haram. Batu bara banyak dihasilkan di Indonesia.”
Dia menambahkan bahwa untuk mencegah dampak negatif terhadap masyarakat dan dunia secara keseluruhan, masalah emisi harus diperhatikan.
Sebelum ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTU) sebesar 6,3 gigawatt (GW) sangat diperlukan karena Indonesia masih membutuhkan energi dari batu bara.
Bahlil menekankan bahwa penggunaan energi baru dan terbarukan sedang berkurang. Ini terutama berlaku untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Jika pada siang hari dia dapat menyerap energi baru, ini akan menjadi energi terbarukan kita. Begitu sore atau malam, tidak lagi. Pada Senin (26/5), Bahlil menyatakan bahwa batu bara harus ada.
Energi Terbarukan
Selain itu, Bahlil menyatakan bahwa Indonesia terus meminta kontrak batu bara dari negara-negara yang mengembangkan energi terbarukan dan baru.
Dia menyatakan bahwa Indonesia dapat terus menggunakan batu bara, seperti membangun pembangkit listrik tenaga surya baru, jika negara lain hanya mengembangkan energi terbarukan dan baru.
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menetapkan bahwa kapasitas pembangkit listrik harus ditingkatkan sebesar 69,5 gigawatt (GW).
EBT menyumbang 61% dari penambahan pembangkit listrik, atau 42,6 GW; penyimpanan atau penyimpanan menyumbang 15%, atau 10,3 GW; dan energi dari sumber daya fosil, seperti gas 10,3 GW dan batu bara 6,3 GW, menyumbang 24%, atau 16,6 GW.
