Jakarta, Intra62.com – Kemunculan capres dalam azan dinilai oleh Pengamat politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) Adi Prayitno. Adanya calon presiden Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Ganjar Pranowo di saluran TV bukanlah bentuk identitas politik. Dia mengatakan, kemunculan Ganjar mirip tokoh politik dalam iklan perayaan hari besar keagamaan lainnya.
“Ini jelas bukan politik identitas. Politik identitas bukanlah definisi yang sederhana. Itu hanya tontonan orang-orang yang beribadah. Melakukan kebaikan,” kata Adi, Minggu (10/9/2023).
Baca Juga: Mertua Mendiang Vanessa Angel Terjun Ke Dunia Politik
Adi kemudian menyebut, kemunculan elite politik dalam video serupa merupakan hal yang biasa dan lumrah. Tak hanya dalam konteks azan, praktik tersebut juga dilakukan elite politik mengucapkan di bulan Ramadhan atau merayakan hari raya.
Arti Politik Identitas

Adi juga menerangkan, politik identitas merupakan praktik politik yang mengajak orang lain untuk memilih calon peserta pemilu berdasarkan sentimen agama, suku, dan ras. Influencer kemudian akan pergi ke tempat pemungutan suara untuk memilih dirinya sendiri atau tokoh yang didukungnya.
Dalam konteks seorang politisi atau calon presiden tampak melakukan sembahyang atau ritual keagamaan lainnya yang merupakan bagian dari agamanya.
“Ikut salat, mengaji, dan sebagainya, bukanlah politik identitas. “Tapi itu bagian dari aspek keagamaan,” jelas Adi.
Adi pun nampaknya menyayangkan masyarakat saat ini yang minim pengetahuan politik. Bukan hanya rakyat biasa, tapi juga elite politik.
“Sepertinya semua yang berkaitan dengan simbol agama adalah politik identitas, kenyataanya sebatas agama.” tutur Adi. ”
Menghadapi tahun politik yang semakin dekat, Adi mengatakan dinamika politik akan semakin rumit jika tindakan seorang politisi dituduh berpolitik identitas.
Adi kemudian mencontohkan praktik politik identitas yang dialami Indonesia pada Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019. Ia menilai dalam dua peristiwa tersebut terdapat upaya untuk menggalang dukungan terhadap calon tertentu dengan menggunakan simbol agama. .
PDIP Membantah Adanya Politik Identitas
Sebelumnya, kemunculan Ganjar dalam azan RCTI sempat menjadi perdebatan di dunia maya. Dalam pertunjukannya, Ganjar beberapa kali terlihat. Mulai dari berjabat tangan saat memasuki masjid, melakukan berwudhu hingga menunaikan salat berjamaah.
Tayangan tersebut menuai kontroversi karena dianggap sebagai bentuk politik identitas. Namun hal tersebut dibantah oleh Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto. Hasto menerangkan, hal itu sebenarnya menunjukkan bahwa Ganjar adalah sosok yang religius.
Ia menilai ajakan masyarakat untuk mengikuti ibadah Ganjar merupakan hal yang positif. Untuk itu, ia meminta agar ekspresi spiritualitas suatu bangsa tidak dikaitkan langsung dengan politik identitas.
Ia menegaskan, politisasi identitas pada hakikatnya merupakan kebijakan yang tidak mencerdaskan bangsa.
Lebih lanjut, Hasto menegaskan, agama Ganjar tidak perlu diragukan lagi karena terlihat dari rajin melakukan ibadah dan kepribadiannya yang santun. Selain itu, menurutnya, religiusitas juga terlihat pada keluarga Ganjar dan istrinya Siti Atiqah yang berasal dari pesantren.
Ganjar dan istrinya, Siti Atiqah, menunjukkan kehidupan spiritual yang mencerminkan manusia bertaqwa kepada Tuhan, bukan sesuatu yang dibuat-buat. (red/intra62)
