Jakarta, Intra652.com – Menurut American Automobile Association (AAA), harga rata-rata nasional Amerika Serikat (AS) untuk bensin reguler melonjak hampir 27 sen dari pekan sebelumnya menjadi 3,25 dolar AS per galon ($1 = Rp16.886).
Pernyataan tersebut menyatakan bahwa rata-rata nasional belum pernah mencatat lonjakan mingguan serupa sejak awal konflik Rusia-Ukraina pada Maret 2022.
Peningkatan terbaru ini akan membuat rata-rata nasional berada pada tingkat harga yang sama seperti pada awal April 2025, menurut AAA.
Produksi bensin campuran musim panas, juga dikenal sebagai bensin campuran musim panas, dimulai pada musim semi, yang biasanya mengakibatkan kenaikan harga bensin.
Pada hari Kamis, kontrak berjangka minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April melonjak 8,51 persen. Itu ditutup di atas 81 dolar AS per barel, level tertinggi sejak Juli 2024.
Harga minyak melonjak tajam setelah serangan militer AS dan Israel terhadap Iran. Tindakan ini mendorong Iran untuk menutup Selat Hormuz, yang biasanya memfasilitasi sekitar 25 persen perdagangan minyak global melalui laut.
Menurut catatan riset yang dirilis oleh Stifel, perusahaan manajemen aset dan perbankan investasi AS, pada Selasa (3/3), penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan berpotensi mendorong harga minyak mentah ke angka 100 dolar AS per barel. Jika harga minyak tetap tinggi, ini akan menyebabkan kenaikan tekanan kredit dan kenaikan inflasi indeks harga konsumen (IHK) utama.
Baca Juga : Mende menDorong APKASI untuk Menemukan solusi Praktis yang akan Mempercepat Pembangunan dan Kemajuan Desa.
Baca Juga : DPD Republik Indonesia Meminta Kemenkes Mempercepat Penugasan dokter-nakes di Papua Barat Daya.
(Red).
