Jakarta, Intra62.com – Akibat dampak dua bibit siklon tropis yang terpantau di Samudera Hindia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memasukkan beberapa perairan di Nusa Tenggara Barat (NTB) ke dalam zona merah.
Kondisi itu menyebabkan gelombang laut meningkat hingga enam meter, kata pakar BMKG Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Kadek Katriavi.
Di Mataram, Kamis, dia menyatakan, “Kami mengimbau masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan.”
BMKG, melalui Pusat Peringatan Siklon Tropis (TCWC) di Jakarta, memprakirakan dua sistem tekanan rendah yang berpotensi menjadi siklon tropis: bibit siklon tropis 90S yang berada di perairan selatan Jawa Timur dan bibit siklon tropis 93S yang berada di barat laut Australia.
Kadek mengatakan bahwa aktivitas dua bibit siklon tersebut meningkatkan kecepatan angin dan tinggi gelombang di beberapa wilayah perairan NTB, terutama di bagian selatan yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Ini adalah efek tidak langsung dari aktivitas dua bibit siklon tersebut.
Peta prakiraan gelombang yang berlaku dari 5 hingga 6 Maret 2026 menunjukkan bahwa gelombang laut berpotensi mencapai tinggi 4 hingga 6 meter di Selat Lombok bagian selatan, Selat Alas bagian selatan, dan Samudra Hindia selatan NTB.
Perairan di Samudera Hindia di selatan Lombok Barat bahkan masuk kategori ekstrem karena potensi gelombang laut lebih dari enam meter.
Di perairan selatan Sumbawa, diperkirakan terjadi gelombang kategori tinggi 2,5 hingga 4 meter. Sebaliknya, Kadek menyatakan bahwa Selat Lombok di bagian utara, Selat Alas di bagian utara, dan Selat Sape di bagian utara dan selatan berada di antara 1,25 dan 2,5 meter.
BMKG mengeluarkan peringatan dini kepada orang-orang dan pelaku pelayaran untuk memperhatikan gelombang tinggi, terutama untuk jalur penyeberangan penting antara pulau seperti Selat Lombok, Selat Alas, dan Selat Sape.
Baca Juga : Warna Peringatan: BMKG Memproyeksikan Hujan Sedang-Lebat dan Guyur di Jabar dari 4 Hingga 10 Maret.
(Red).
