Jakarta, Intra62.com – Untuk memastikan keberlanjutan hidup satwa, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali meminta lembaga konservasi untuk menjaga kesehatan gajah.
Di Denpasar, Bali, Senin, Kepala BKSDA Bali Ratna Hendratmoko mengatakan, “Pengelolaan gajah harus beradab dan menghargai karena mereka adalah satwa, sama-sama ciptaan Tuhan.”
Setelah tubuh gajah menjadi viral di media sosial dan digambarkan oleh banyak pengunjung di salah satu lembaga konservasi di Bali, ia mengingatkan kembali kesejahteraan satwa itu.
Dia menyatakan bahwa peristiwa itu sudah lama terjadi pada Januari 2022, ketika pariwisata Bali mengalami penurunan akibat pandemi COVID-19.
Setelah viral, pihaknya telah melakukan penelusuran untuk memastikan bahwa kegiatan melukis tersebut tidak ada lagi.
Dia menambahkan, “Kegiatan itu untuk menarik pengunjung dan juga untuk donasi atau penggalangan dana untuk pakan gajah pasca-COVID, dan sampai saat ini sudah tidak ada lagi melukis di tubuh gajah.”
Untuk mengurangi masalah ini, pihaknya telah memberikan instruksi teknis kepada seluruh lembaga konservasi di Bali, terutama yang menangani gajah, untuk memastikan bahwa mereka selalu memperhatikan kondisi hewan dilindungi tersebut.
Ia mendesak lembaga konservasi di Bali untuk mengambil pelajaran dari kejadian tersebut, terutama dalam hal menjaga kesejahteraan gajah, termasuk program menunggangi gajah.
“Kami harapkan mereka mengurangi secara bertahap dan menghapus gajah tunggang secara berkala, dan semoga dengan keadaan ini menjadi pembelajaran terutama untuk gajah tunggang,” katanya.
Ratna menceritakan bahwa saat ini ada lima lembaga konservasi di Bali dan Pulau Dewata yang menjaga gajah.
Lembaga konservasi memiliki 84 ekor gajah sumatera.
BKSDA Bali akan terus mengawasi dan mendidik lembaga konservasi untuk memastikan pengelolaan satwa, terutama menjaga kesehatan gajah sesuai dengan prinsip konservasi dan kesejahteraan satwa.
Baca Juga :Anggota DPR Meminta OJK Menghapus Peraturan Penagihan Pihak Ketiga.
(Red).
