• Thu. Apr 23rd, 2026

Suksesi Nasional Potensi Pilpres 2024

ByIM

Jul 17, 2023
Suksesi Nasional Potensi Pilpres

Jakarta, Intra62.com – Suksesi nasional potensi Pilpres 2024 mengulangi dua kali yang sebelumnya hanya diikuti oleh dua kontestan. Pada dua kali pilpres Jokowi melawan Prabowo Subianto, pada Pilpres 2024 terbuka memungkinkan Ganjar Pranowo Vs Prabowo.

Lili Romli sebagai Peneliti BRIN, menganggap kesempatan tersebut terbuka dilihat dari pergerakan parpol-parpol saat ini. Terdapat kegamangan dipicu rendahnya elektabilitas ketum parpol sementara parpol perlu efek ekor jas agar mampu menempatkan wakil di parlemen.

“Besar peluang dengan kondisi seperti itu, ada dua poros saja, seperti pada pilpres 2019,” ujar Lili, di Jakarta, Senin (10/7/2023).

Baca Juga: Airlangga Hartarto Ketua Umum (Ketum) Golkar Singgung Koalisi Besar

Kesempatan pilpres hanya diikuti Ganjar dan Prabowo bisa dibaca dari penjajakan parpol-parpol. Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KIR) maupun Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP), tak mampu mendapatkan amunisi tambahan dengan berkolaborasinya partai lain.

PKB dan Gerindra yang berkolaborasi dalam KIR sampai kini belum deklarasi capres secara resmi. Dan PKB aktif cawe-cawe dengan Golkar maupun PDIP.

Selanjutnya, KIB yang secara de facto sudah ditinggal PPP yang bergabung ke PDIP mensupport Ganjar Pranowo seolah lanjut segan, bubar gengsi. PAN dan Golkar masih mencari tempat untuk berkolaborasi, kursi keduanya di parlemen sudah memenuhi ambang batas membawa capres-cawapres.

Tren penurunan dialami KPP elektabilitas. Demokrat, Nasdem dan KPP butuh sosok cawapres yang bisa diterima secara internal dan mampu mempertahankan elektabilitas Anies. Belakangan, Demokrat membuka komunikasi dengan PDIP.

Membuka komunikasi Manuver PDIP dengan partai-partai di luar kerja sama pengusung Ganjar Pranowo turut menentukan. Aktif berkomunikasi PDIP dengan PKB bahkan Demokrat. Sedangkan Golkar, PAN dan PKB pada akhirnya bersatu praktis dengan poros PDIP praktis menyisakan Prabowo menjadi salah satu kandidat terkuat. Kemudian Anies, potensi ditinggal anggota KPP melihat rendahnya tren elektabilitas.

“Partai-partai lain tidak cukup untuk maju sendiri selain PDIP, mengharuskan untuk koalisi. Sementara parpol-parpol berkeinginan agar ketuanya sebagai cawapres, sementara elektabilitasnya relatif kecil. Karena itu, capres yang ada ingin agar cawapresnya yang memiliki elektabilitas, yang bukan dari para ketum partai,” terang Lili.

Sangat disayangkan jika pilpres kembali diikuti dua pasangan calon saja. Karena, dengan keadaan saat ini seharusnya parpol percaya diri mengusung ketum menjadi pasangan capres-cawapres hingga mendatangkan tiga atau empat kontestan.

“Seharusnya, mestinya, bisa tiga atau empat pasangan. PAN dengan Golkar, Gerindra dengan PKB, PKS dengan Nasdem dan Partai Demokrat, serta PPP dengan PDIP,” katanya. (red/intra62)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/