Jakarta, Intra62.com –
Sebuah pernyataan dibuat oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bahwa mereka sedang mengerjakan peraturan atau payung hukum untuk mengatur rencana impor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia.
Jadi, satu-satunya hal yang tinggal adalah cara mengimpornya. Apakah ada BLU (Badan Layanan Umum) atau badan usaha secara langsung? Ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM di Jakarta, Jumat, Wakil Menteri ESDM Yuliot menyatakan bahwa mereka sedang menyiapkan payung regulasi untuk kedua opsi tersebut.
Yuliot mengatakan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan dua cara untuk mengimpor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia.
Mengimpor langsung dari BUMN atau BLU adalah opsi pertama.
Yuliot menyatakan bahwa pilihan pertama memiliki konsekuensi yang berbeda jika BUMN yang mengimpor barang dari Rusia, mengingat BUMN sudah memiliki kontrak pengadaan minyak dengan pihak lain.
Selanjutnya, cara pembiayaannya akan berdampak pada proses pengadaan. Yuliot menyatakan bahwa dalam kasus BUMN, mungkin perlu melakukan tender terlebih dahulu. Dalam hal ini, skemanya mungkin adalah G-to-G (antara pemerintah).
Akibatnya, mengimpor melalui BLU adalah pilihan tambahan yang sedang dipertimbangkan. Dia berharap terdapat kemudahan, termasuk pembiayaan, ketika mengimpor melalui BLU.
Yuliot mengatakan, “Kami juga lagi membahasnya antara kementerian/lembaga dan badan usaha, termasuk jalur mana yang akan digunakan saat impor.”
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia menghasilkan komitmen 150 juta barel minyak dari Rusia dengan harga khusus, kata Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan.
Menurut Hashim, pada awal pertemuan, Rusia setuju untuk segera mengirim 100 juta barel minyak ke Indonesia dengan harga khusus.
Hashim menyatakan bahwa Rusia akan menambah pasokan minyak sebesar 50 juta barel untuk Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi jika Indonesia masih membutuhkannya.
Hashim menyatakan, “Jadi dia (Prabowo) ke Moskow bukan untuk foya-foya. Dia ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin.”
Oleh karena itu, di tengah krisis energi global yang disebabkan oleh perang AS-Israel dengan Iran, Rusia muncul sebagai sumber energi alternatif untuk Indonesia.
Baca Juga : Mentan Tegaskan Bahwa Jika Harga Naik, Izin Produsen Minyakita dicabut.
Baca Juga : Volatilitas Harga Minyak Dunia Memengaruhi Penurunan Rupiah.
(Red).
