Jakarta, Intra62.com –
Menurut Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), realisasi perjanjian dagang internasional Indonesia beberapa waktu terakhir dapat memperkuat pengalihan pasar ekspor ke negara-negara non-tradisional.
Saat dihubungi di Jakarta, Jumat, Bhima mencontohkan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA), yang memberikan kesempatan kepada Indonesia untuk berdagang produk perkebunan dan komoditas energi yang ramah lingkungan.
Bhima menyatakan bahwa pemanfaatan pasar Eropa melalui IEU-CEPA dengan standar emisi yang ketat membuka peluang seperti baja hijau hingga produk perkebunan dengan pemenuhan syarat EUDR (Peraturan Deforestasi Uni Eropa).
Selain itu, ia menyatakan bahwa Indonesia memiliki banyak peluang perdagangan bilateral dengan negara-negara yang tidak biasa. Contohnya termasuk Perjanjian Perdagangan Preferensial Indonesia-Tunisia (IT-PTA), Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Peru (IP-CEPA) di Amerika Latin, dan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).
Bhima menyatakan bahwa pengembangan pasar ekspor non-tradisional yang paling mendesak adalah Amerika Tengah dan Selatan, Rusia, Tunisia, hingga Kepulauan Pasifik seperti Solomon, Fiji, dan Vanuatu.
Karena pertumbuhan ekonomi yang stabil dan tingginya permintaan di Negeri Tirai Bambu, ia melihat bahwa China masih merupakan tujuan ekspor yang menarik bagi Indonesia.
Dia menyatakan bahwa, karena pertumbuhan ekonomi masih terjaga di angka 5 persen dan masih cukup solid ditopang permintaan domestik China yang besar, pasar ekspor sebaiknya beralih ke China.
Selain itu, Bhima mengusulkan agar Indonesia menjadi lebih adaptif dalam pengembangan kualitas produk untuk menjadi lebih berdaya saing di pasar global.
“Disarankan juga untuk diversifikasi produk nonmigas seperti modul panel surya dan bahan kosmetik,” katanya.
Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, mengatakan bahwa untuk mencegah Indonesia kehilangan potensi pasar ekspornya di tengah perang Iran-AS-Israel, daya saing sangat penting.
Negara lain juga otomatis beralih ke pasar produk unggulan ke kawasan yang tidak terdampak jalur Selat Hormuz. Pada dasarnya, pengalihan rantai pasokan telah terjadi sebelum pengalihan pasar ini, yaitu selama perang. Faisal menjelaskan bahwa ini diikuti oleh pengalihan pasar saat konflik berlanjut.
“Tentu saja faktor yang berpengaruh sekali disini adalah memang biaya logistik dan bagaimana hambatan perdagangan yang diterapkan oleh pasar-pasar baru ini, baik itu hambatan tarif maupun nontarif, itu yang menentukan.”
Baca Juga : Pemerintah Menjaga Ekonomi Indonesia Tetap Berjalan di Tengah Dinamika Global.
Baca Juga : Purbaya Menyatakan Kenaikan Belanja K/L Sebagai Akibat dari Dampak Ekonomi yang Merata.
(Red).
