Jakarta, Intra62.com –
Pada penutupan perdagangan hari Jumat, nilai tukar rupiah melemah 14 poin, atau 0,08 persen, menjadi Rp17.104 per dolar AS. Ini turun dari penutupan sebelumnya di level Rp17.090 per dolar AS.
Muhammad Amru Syifa dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) mengatakan sikap wait and see pasar menjelang rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS memengaruhi pelemahan rupiah.
“Meskipun sempat terapresiasi ke level Rp17.083 pada awal sesi, tekanan eksternal masih mendominasi, terutama akibat penguatan dolar AS menjelang rilis data inflasi AS,” katanya.
Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat diperkuat oleh peningkatan data CPI AS, yang mendukung penguatan dolar AS.
Selain itu, dia menyatakan bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan kemungkinan gangguan distribusi energi di seluruh dunia telah meningkatkan permintaan untuk aset safe haven, sehingga meningkatkan tekanan pada rupiah.
Sehubungan dengan perasaan di dalam negeri, intervensi Bank Indonesia (BI) dianggap sebagai faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.
Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menyatakan bahwa stabilisasi rupiah adalah hal yang paling penting, bersama dengan intervensi di pasar spot dan non-deliverable forward (NDF), serta kesiapan untuk membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Amru menyatakan, “Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa bank sentral secara konsisten menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui intervensi di pasar domestik NDF dan offshore.”
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melemah pada Jumat ini, turun dari Rp17.082 per dolar AS.
Baca Juga : BI Mengoptimalkan Instrumen Operasi Moneter Saat Rupiah Melemah ke Rp17 Ribu.
Baca Juga : Rumah Ono Surono di Bandung disita oleh KPK dengan uang ratusan juta rupiah.
(Red).
