Jakarta, Intra62.com – Program Teknologi Kampung Terpadu (TEKAD), yang dipimpin oleh Yandri Susanto, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, bertujuan untuk meningkatkan ekonomi wilayah timur Indonesia, dan akan berlangsung hingga Desember 2026.
Di Surabaya, Jatim, Senin, dia mengatakan, “Kami menargetkan peningkatan ekonomi dari program TEKAD ini, baik dalam skala rumah tangga maupun perusahaan seperti BUMDesa.”
Menurut Yandri, program TEKAD, yang beroperasi sejak 2020, dapat mengurangi kesenjangan ekonomi di Indonesia timur.
Jumlah kopi Bajawa yang dihasilkan di wilayah Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang akan diekspor, adalah salah satu tujuan yang akan dicapai dalam waktu dekat.
Ia berharap untuk meningkatkan ekspor Kopi Bajawa ke pasar global dalam jumlah besar, naik dari lima ton menjadi sepuluh ton.
Dia menyatakan bahwa Program Teknologi Kampung Terpadu berfokus pada provinsi NTT, Maluku, Malut, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah.
Selanjutnya, setiap desa atau kampung di sembilan provinsi yang disasar akan dibangun berdasarkan potensinya masing-masing dalam hal wisata dan hasil bumi.
Menurutnya, wisata dan hasil bumi setiap desa adalah kunci pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Yandri mengatakan, “Inti pokoknya, kita tidak menyeragamkan semua desa dengan satu produk. Sebaliknya, kita utamakan potensi desa itu menjadi keunggulan mereka.”
Kemendes PDT bekerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) dan fasilitator TEKAD serta masyarakat setempat untuk memajukan wilayah itu.
Banyak juga bantuan yang telah diberikan, termasuk demplot ke 366 desa dan kampung target senilai Rp100 juta dan rumah inovasi teknologi desa (RITD) di 50 BUMDesa senilai Rp20 miliar.
Selain itu, dana investasi di 18 BUMDesa menerima bantuan sebesar Rp350 juta selain pelatihan-pelatihan yang diatur oleh Pemerintah RI dan IFAD.
(Red).
